YTP: Pondok Pesantren Urban

publicanews - berita politik & hukumPara pengurus Pesanten al-Raudlatul Ilmiyah, Kertosono, Jawa Timur. (Foto: istimewa)
Oleh: Bukhori at-Tunisi

SECARA geografis, Pondok Pesantren al-Raudlatul Ilmiyah, yang lebih dikenal dengan Pesantren YTP, berada di Timur Pasar Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh K.H. Salim Akhyar pada tahun 1949.

YTP merupakan pondok pesantren muda bila dibandingkan dengan pondok pesantren salafiyah lainnya di Jawa Timur. Namun dengan kemudaan usia, membawa nuansa baru dengan semangat “muda” dalam kancah pergulatan pemikiran modern Islam Indonesia.

Pondok Pesantren YTP, memang berfaham modern (al-fikrah al-tajdidi), bukan faham tradisional (al-fikrah al-taqlidi), meskipun pendiri memiliki “sanad” keilmuan dengan silsilah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, karena beliau adalah santri langsung dari Hadlratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ yang beraliran “tradisionalis”.

Belajar tidak hanya cukup di Tanah Jawi, Yai Salim bak Ibn Batutah, melanglang buana mulai dari Tumasik (Singapura), Malaysia, Siam (Thailand), Burma, Bangladesh, terus ke India, Pakistan, Iran hingga ke Saudi Arabia untuk belajar di sana. Merasa masih kurang, Yai Salim mencari ilmu ke Mesir hingga Sudan. Yai Salim pulang membawa gagasan baru (fikrah al-tajdidi), bukan ajaran lama (fikrah al-qadim) seperti saat belajar di Pesantren Tebu Ireng.

Meskipun berfikrah modern, namun pembelajaran di Ponpes YTP masih menggunakan materi pelajaran lama dalam hal “ilmu-ilmu alat” seperti nahwu, sharaf, ushul fiqh, qawaidul fiqhiyyah, balaghah dan lainnya, tetap diajarkan. Oleh sebab itu, lulusan Pesantren YTP Kertosono memilki skil dan lancar dalam membaca kitab kuning atau kitab gundul, buku berbahasa Arab yang tidak ada harakatnya.

Bukan sebuah kebetulan jika Yai Salim meletakkan Ponpok Pesantren YTP di dalam Kota Kertosono. Berdasarkan pengalamannya yang pernah nyantri kepada kyai besar, juga “rihlan ilmiyah” ke berbagai pesantren di Tanah Jawi, tentu Yai Salim sudah mempertimbangan secara dalam membuat sebuah “grand design” pesntren sebagai aktualisasi fikrah yang beliau canangkan.

Penempatan Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyah di tengah kota merupakan pilihan brilian Yai Salim, sebagai al-talazumiyah (implikasi) dari pandangan modernisme Islam-nya. Yai Salim ingin menunjukkan bahwa Pesantren tidak harus diletakkan di gunung, di pedesaaan atau jauh dari riah-riuh keramaian kota, jauh dari hiruk-pikuk duniawi yang dapat “mengganggu” belajar santri. Bagi Yai Salaim, santri tidak harus “uzlah” dari pergulatan duniawi.

Mengapa penempatan Ponpes YTP di tengah-tengah kota Kertosono sebagai pilihan brilian?

Pertama, Yai Salim adalah murid langsung dari KH. Hasyim Asy’ari yang mewariskan “tradisionalitas” kepesantrenan, tentu sulit bagi santri untuk “lepas” dari ajaran dan doktrin yang pernah diterima dari gurunya. Berapa banyak kaum cerdik pandai, tetapi hanya copy paste dari fikrah pendahulunya. Bahkan, seliberal Ulil Absar Abdallah tidak berani lepas dari lingkaran tradiosionalitas “genetis”-nya.

Mudah sebenarnya untuk mendapatkan santri yang banyak dan berjubel pendaftarnya. Cukup pasang “nama besar” K.H. Hasyim Asy’ari, dengan mengaku sebagai penerima “sisilah” keilmuan yang sah dari beliau. Namun itu tidak dilakukan. Yai Salim memilih “jalan terjal” (‘aqabah) dengan menawarkan gagasan pembaharuan dalam mendirikan pondok pesantren.

Kedua, kaum santri sering dijadikan olok-olokan oleh kaum “abangan” sebagai kaum “sarungan” yang anti modernitas. Kaum sarungan adalah sebutan pejoratif. Kaum sarungan merupakan sebutan bagi simbol dari keluguan, kejujuran, hidup apa adanya, nerimo, dan hidup ndeso kesa-keso. “Kaum Sarungan” adalah “lawan” dari kaum “terdidik”, yang hidupnya maju, terencana, terprogram, rasional, praktis dan modern. Dengan simbol: berbaju pantolan.

Ketiga, kota (urban) identik dengan pasar. Pasar merupakan tempat berkumpulnya berbagai profesi, kultur, adat-istiadat dan beragam kepentingan. Pasar merupakan tempat orang “meng-adu” keahlian, menunjukkan “kebolehan” dan ketrampilannya agar “laku” dan “dibeli” yang lain. Yang “hebat” bisa menang dan “diterima” pengaruhnya. Yang “kalah” tersisih dan “hilang” pengaruhnya.

Yai Salim ingin mendidik santrinya agar kompetitif dalam kosmopolitanisme kebudayaan nusantara dan dunia, bukan berada di pinggiran (pariferal) budaya kosmopolitan. Santri YTP harus ada di “core” peradaban dengan ciri khas sebagai santri yang “menang”, modern dan unggul. Menggapai peradaban, bukan lari dari pergumulan peradaban.

Ke-kota-an itu, bukan hanya meletakkan Ponpes YTP berada di tengah Pasar Kertosono, namun ke-kota-an itu memang disengaja untuk membentuk generasi yang berfikiran modern, progresif dan kosmopolitan.

Keempat, mendidik santri untuk tidak kehilangan jati diri di tengah pergumulan peradaban kota. Tidak larut dalam arus kosmopolitanisme tapi menjadi kampiun yang berada di depan. Ada beda antara santri dengan yang bukan santri dalam pergumulan peradaban, bukan sama saja (podo ae). Harus ada distingsi (al-fashl) antara yang terdidik secara islami dan yang terdidik secara sekular.

Santri hebat bukan saat berada di tengah-tengah komunitas santri. Santri hebat manakala berada di komunitas umum, bisa memberi warna dan rasa keadaban. Orang baik berteriak kebajikan di tengah orang saleh, biasa. Santri hebat manakala berani berteriak di tengah komunitas orang-orang yang bermaslah (fi’l al-munkarat).

Yai Salim ingin mengajarkan pada santrinya, bahwa kehidupan duniawi (sekular) tidak perlu dijauhi (‘uzlah). Santri YTP tidak perlu lari dari percaturan sosial, pergumulan masyarakat. Yai Salim ingin mengatakan: “Hadapi semua yang ada di hadapan kalian, jangan lari dan menjadi orang kalah!!”

Dengan berjibaku dengan dunia nyata, bergaul dengan kaum abangan, kelompok Islam modernis, tradisionalis, bahkan alladiniyyah (atheis), santri YTP siap menghadapi, tidak mundur, apalagi alergi dan memusuhi. Tidak.

Pondasi pesantren “kota” itu telah diletakkan oleh Yai Salim dengan elok dan benar. Santri yang punya hadlarah dan keilmuan yang mantap. Dengan khas yang bercirikan santri yang islami par excellence.

Yai Salim sudah memulai dan berbuat, bahwa melawan sufisme menyimpang (askepisme), sekularisme, liberalisme dan sejenisnya, tidak harus berteriak kafir. Tetapi hadapi dengan akal sehat, hati jernih, perilaku humanis dan visioner.

Bila mau disejajarkan, metode Yai Salim ini, mirip Metode “al-Ma’un”-nya Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Bukan hanya bicara, tapi berbuat nyata.

Bukhori at-Tunisi
Alumni Ponpes YTP, Kertosono. Penulis buku: KonsepTeologi Ibn Taimiyah

*) Konten yang ada di Rubrik Publicana merupakan rilis atau tulisan yang bersangkutan yang dimuat oleh Redaksi Publicanews. Isi menjadi tanggungjawab penulis/pengirim.

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top