Pilkada 2018

Enam Lembaga Survei Ternama Dilaporkan ke Bareskrim

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi
PUBLICANEWS, Jakarta - Enam lembaga survei papan atas dilaporkan ke Bareskrim Polri karena dinilai melakukan kebohongan. Pelapor menilai rilis hasil survei dan quick qount seharusnya tidak berbeda jauh.

Salah satu pelapor, Djoko Edhi Abdurrahman, mengatakan ketika merilis hasil survei disebutkan margin of error hanya sekitar 3,2 persen. Namun nyatanya hasilnya kontras.

"Misalkan angka elektabilitas 3,2 persen ke Asyik (Sudrajat-Ahmad Syaikhu), di quick count-nya 29 persen. Sehingga 29 persen dikurangi 3,2, jadi 25-an persen ngawurnya," ujar Djoko di Kantor Bareskrim, Kamis (19/7).

Menurutnya, margin kesalahan hingga 25 persen merupakan bukti adanya kesengajaan penyimpangan saat rilis hasil survei.

"Sekalipun turun Avangers (tokoh hero dalam film) membantu itu, enggak mungkin begitu. Itu adalah kesengajaan yang merupakan tindak kriminal,” Djoko menambahkan.

Berdasarkan teori ambang batas toleransi, ujar Djoko, margin of error tertinggi sekitar 7 persen. Namun dalam kasus Pilgub Jabar dan Jateng ternyata mencapai puluhan persen.

"Mereka sebut elektabilitas Asyik di bawah 10 persen, namun hasil Pilgub Jabar Asyik bisa di posisi kedua," kata Djoko.

Djoko melapor bersama Ahmad Bay Lubis, Hatta Taliwang, Dedy Setyawan, dan Dadang Iswansah. Keempatnya melaporan enam lembaga survei ternama, yaitu LSI Denny Aj, SMRC, Poltracking, Charta Politika, Indo Barometer, dan Indikator Politik.

Keenam lembaga survei itu dianggap melanggar UU ITE Pasal 1 Ayat 28 tentang adanya kesengajaan menyebarkan berita bohong. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top