Pilkada 2020

Menguji Dominasi Partai Dakwah di Kota Depok

publicanews - berita politik & hukumBendera PKS (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Depok - Kongsi walikota dan wakil walikota Depok, Jawa Barat, periode 2015-2020 sudah pecah. Mohammad Idris sang walikota tidak lagi bergandengan dengan wakilnya Pradi Supriatna dalam periode kedua. Masing-masing telah berlayar dengan perahu masing-masing.

Idris menggandeng Kepala Bidang Humas DPW PKS Jawa Barat Imam Budi Hartono. Pasangan ini yakin dengan dominasi PKS selama 15 tahun memimpin kota Depok. Sejak pemilihan langsung pertama di Depok pada 2005, PKS memang selalu berhasil menguasai perolehan suara di kota penyangga Ibukota itu.

Namun, kali ini, lawan PKS yang didukung PPP dan Demokrat adalah koalisi gemuk PDIP dan Gerindra yang disokong Golkar, PAN, PKB, dan PSI. Wakil Walikota Depok Pradi Supriatna yang merupakan kader Gerindra berhasil menggaet PDIP seiring kemesraan kedua partai itu pasca Pilpres 2019 lalu. Pradi disokong 33 kursi berhadapan Idris yang memperoleh 17 kursi DPRD Kota Depok.

Meski kalah dalam jumlah kursi parlemen kota, tetapi kubu Idris yakin loyalitas warga Depok terhadap kader yang diusung partai dakwah itu. Ketua Tim Pemenangan Pasangan Idris-Budi, Muhammad Hafid Nasir, yakin 1,3 juta pemilih dari 1,8 juta penduduk Depok masih setia pada PKS.

Di tengah kampanye serba terbatas karena pandemi Covid-19, Hafid mengatakan mesin pemenangan telah berjalan kencang tinggal mengoptimalkan jejaring online. “Kami sudah siapkan media sosial dengan menggunakan seluruh platform yang ada," kata Hafid, Minggu (27/9) kemarin.

Bila prediksi Hafid menjadi kenyataan maka PKS menjadi partai yang berhasil menguasai Depok selama empat periode. Itu juga akan mencerminkan hegemoni partai berlambang bulan kembar dan padi emas itu di kota terpadat ketiga setelah Surabaya dan Medan yang menyelenggarakan Pilwalkot 2020.

Kemenangan itu kian menguatkan fakta dalam Pilpres 2019 di mana Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno yang didukung penuh oleh PKS berhasil menguasai Depok dengan 57,11 persen suara, berbanding 42,89 persen suara yang dikumpulkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Namun, pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai meski Idris di atas angin tetapi kekuatannya hampir berimbang dengan Padri. Keduanya sama-sama populer dan menguasai sumber daya dan akses di pemerintahan Kota Depok.

Ujang mengatakan bila strategi keliru maka Idris bisa tumbang. "Wakilnya (Padri) tahu rahasia, banyak tahu birokrasi, Idris harus hati-hati meski incumbent orang nomor satu, lebih dikenal masyarakat, didukung oleh PKS yang menjadi basis partai tersebut," ujarnya.

Idris, yang lebih dikenal sebagai Idris Abdul Somad, tampaknya memang akan melawan angin kencang Padri yang berpasangan dengan politikus perempuan PDIP Afifah Alia. Pasangan ini meniupkan semangat pembaruan di Kota Depok. Mampukah status quo bertahan? (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top