Pilwakot Solo 2020

Tikus Pithi Pengusung Bajo Siap Menantang Gibran dari Istana

publicanews - berita politik & hukumPasangan bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo Bagyo Wahono (kiri) dan FX Supardjo. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Ormas Tikus Pithi Hanata Baris menyebut diri sebagai barisan wong cilik alias rakyat kecil yang memperjuangkan nasib bangsa. Ormas di bawah payung Yayasan Surya Nuswantara itu berhasil mengusung pasangan calon independen Bagyo Wahyono-FX Supardjo (BaJo) dalam Pilwalkot Solo.

Capain itu merupakan hasil kebersamaan dari anggota ormas berlambang garuda emas berlatar kain hitam yang diklaim sebagai panji-panji sejak zaman Singasari dan Majapahit. Ketua Tikus Pithi Tuntas Subagyo mengatakan, sudah sejak setahun lalu niat untuk ikut pilkada lewat jalur independen. Ia berharap kehidupan kebangsaan tidak didominasi partai politik atau bahkan money politic.

Awalnya ormas ini bakal mengajukan calon di 25 kabupaten/kota. Namun, hanya terealisir di tiga daerah, yaitu Kabupaten Boyolali, Sragen, dan Solo. Dukungan calon di Sragen sempat terkumpul 60 ribu KTP tetapi gagal lolos karena tidak menyertakan cetakan formulir B1.1 KWK dan B2 KWK dari sistem informasi calon (Silon) KPU.

Di Boyolali mereka kembali gagal karena hanya terkumpul 52.336 dari syarat 60.636 suara dukungan. Di Solo, Tikus Pithi mendapat dukungan membludak. Bajo awalnya baru mendapat dukungan 28 ribu KTP, kemudian bertambah 21 ribu melebihi syarat 35.870 yang ditetapkan KPU.

Menurut Tulus, keberhasilan mengumpulkan suara dilatari prinsip sekasur, serumah, sesumur. Ia menggabungkan keterikatan suami-istri, antar anggota keluarga dan dengan lingkungan sekitarnya. Hasilnya pun sudah nyata, untuk memenangkan Bajo sudah berdiri posko meski rumah sewaan. Bahkan, tiga ribu baliho segera dipasang di seluruh kota. "Itu semua dari urunan anggota," kata Tulus saat ditemui media, Senin (21/9).

Menurut Tulus, pasangan Bajo tidak mengeluarkan sepeser pun uang hingga saat ini. Biaya pencalonan Bajo sepenuhnya ditanggung anggota. Ormas yang berdiri pada 15 Desember 2014 itu memang sudah memiliki perwakilan di seluruh daerah di Indonesia.

Itu sebabnya, Tulus menepis bahwa munculnya Bajo sekadar sebagai boneka. Pasangan tukang jahit dan ketua RW itu, ia menegaskan, bukan hanya untuk menyemarakkan Pilwalkot Solo. Ia menargetkan kemanangan melawan pasangan gemuk Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang diusung mayoritas parpol.

"Tidak muluk-muluk yang penting menang, walau hanya satu persen," kata Tulus soal pesaingnya yang datang dari penghuni Istana. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top