Anggota KPU Kendal Terbukti Terima Suap Caleg Jateng

publicanews - berita politik & hukumKetua DKPP Muhammad saat membacakan putusan untuk Anggota KPU Kendal Catur Riris Yudi Pamungkas dalam sidang kode etik di Gedung DKPP, Rabu (6/5). (Foto: Humas DKPP)
PUBLICANEWS, Jakarta - Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) menjatuhkan sanksi pemecatan terhadap anggota KPU Kabupaten Kendal Catur Riris Yudi Pamungkas.

"Menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada teradu Catur Riris Yudi Pamungkas selaku anggota KPU Kabupaten Kendal sejak putusan ini dibacakan," kata Ketua DKPP Muhammad membacakan putusan sidang di Gedung DKPP, Jakarta Pusat, Rabu (6/5).

Menurut DKPP, Catur terbukti menyalahgunakan wewenang dengan membantu penggalangan suara untuk calon anggota legislatif DPRD Jateng pada Pemilu 2019 Sri Mulyono.

Muhammad menjelaskan, selama 7 bulan Catur berkomunikasi dengan Sri melalui WhatsApp. Catur meminta sejumlah uang dan menjanjikan membantu memperoleh 15 ribu suara untuk Sri.

Bukti salinan percakapan Catur dengan Sri diakui saksi Ketua KPU Kendal Hevy Indah Oktaria. Ia menyebut sudah kebiasaan anggotanya itu berkomunikasi setiap hari dengan Sri di lingkungan KPU Kendal.

"Nomor telepon seluler yang digunakan juga merupakan nomor yang selama ini digunakan teradu," ujar Muhammad.

Dalam perkara terungkap fakta bahwa Sahal, saksi pihak Sri, mentransfer Rp 4 juta kepada Catur untuk keperluan akomodasi pelantikan Catur sebagai anggota KPU Kabupaten Kendal.

Anggota DKPP Didik Supriyanto menambahkan, Catur meminta tambahan dana untuk mengondisikan tim pemenangan di 13 kecamatan yang terdiri dari PPK dan PPS.

"Teradu melaporkan kepada saksi Sri Mulyono telah menyerahkan masing-masing Rp 1 juta untuk tim pemenangan di 10 kecamatan. Sisanya menunggu amunisi," kata Didik.

Saksi kembali mengirimkan Rp 20 juta kepada Catur untuk biaya operasional tim di sejumlah kecamatan di Kabupaten Kendal. Dalam aksinya Catur juga melibatkan saudara kembarnya untuk pemenangan Sri. Saudara Catur menerima Rp 250 juta. Catur pun kerap berdalih bahwa ponsel dan rekening miliknya sering dipinjam saudara kembarnya.

"Keterangan teradu kerap bertentangan dengan fakta dan bukti percakapan," ujar Didik. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top