Tudingan Lembaga Survei Tidak Ilmiah, Mengada-ada dan Tidak Berdasar

publicanews - berita politik & hukumTalk show ‘Quick Count di Mata Akdemisi’ yang diseleggarakan Alumni Orange dan Alumni Prodi Abi Unika Atmajaya, di Kampus Atmajaya, Jakarta, Rabu (8/5). (Foto: istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta – Tuduhan miring terhadap 12 lembaga survei quick count pada Pemilihan Presiden 2019 dinilai mengada-ada dan tidak mendasar. Hal ini disampaikan para akademisi saat talk show ‘Quick Count di Mata Akdemisi’ yang diadakan Alumni Orange dan Alumni Prodi Abi Unika Atmajaya.

Akademisi Universitas Padjajaran Muradi Clark mengatakan, tuduhan-tuduhan terhadap lembaga survei tersebut memang sengaja diembuskan salah satu pihak yang menginginkan menang dengan menghalalkan segala cara.

“Ada 3 narasi yang dibangun, yaitu pokoknya harus menang, ada kecurangan, dan perang. Narasi itu sengaja dihembus untuk membuat ketakutan-ketakutan di masyarakat, sehingga masyarakat kehilangan kepercayaan kepada seluruh elemen penyelenggara pemilu termasuk kepada lembaga survei yang melakukan quick count,” ujar Muradi Clark, Rabu (8/5), di Kampus Semanggi Unika Atmajaya Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.

Senada dengan Muradi, akademisi Unika Atmajaya Daniel Yusmic menyatakan ada pihak yang mengelola narasi-narasi ketakutan yang berupaya mendelegitimasi pelaksanaan pemilu. Narasi tersebut sengaja dipelihara rengan cara menuduh lembaga survei telah dibayar pihak tertentu.

“Ini telah men-down grade sebuah penelitian ilmiah melalui opini-opini yang dibangun. Saya yakin tuduhan itu tidak mendasar, karena kesalahan mungkin saja ada, tapi penilitian tidak pernah berbohong,” kata Daniel.

Sementara itu Direktur eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menjelaskan, quick count digunakan pertama kali di Indonesia pada pemilu 2004. Selama ini tidak ada masalah yang berarti.

“Quick Count sejak 2004 telah digunakan termasuk di ribuan Pilkada di Indonesia dan tidak pernah ada masalah. Kecuali hasil quick count yang dilakukan oleh 3 lembaga survei yang memenangkan salah satu calon pada pemilihan presiden 2014 lalu,” ujarnya.

Djayadi menambahkan, hal tersebut menunjukkan bahwa metode ini bisa dipertanggungjawabkan, selama dilakukan dengan memakai prinsip-prinsip statistik dan ilmiah.

“Quick Count sendiri harusnya digunakan sebagai pembanding bagi Real Count. Jangan merasa takut untuk membuktikannya secara ilmiah,” Djayadi menegaskan. (*)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top