Pandangan Kebangsaan versi Ma'ruf Amin

publicanews - berita politik & hukumCawapres Ma'ruf Amin dalam acara Deklarasi Dukungan Jokowi-Ma'ruf di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu (9/2). (Foto: Publicanews/bimo)
PUBLICANEWS, Jakarta - Cawapres Ma'ruf Amin mengibaratkan calon pemimpin yang adalah selalu minta dukungan kepada kalangan ulama, layaknya mobil mogok yang didorong.

"Cuma kalau sudah didukung, wabillahi taufiq wal hidayah. Itu nasib kyai dulu. Kayak orang minta dorongin mobil," kata Ma'ruf Amin dalam pidatonya di acara Deklarasi Dukungan Jokowi Ma'ruf di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu (9/2).

Ma'ruf menilai ada yang berbeda dari sosok Jokowi. Menurutnya, pasangannya itu bukan hanya meminta dukungan, melainkan menggandeng ulama sebagai wakil presiden. Ia pun merepresentasikan Jokowi sebagai sosok nasionalis.

"Saya mereprensetasikan diri saya wakil dari Ioslam. Ini jadi tradisi dan harapan kita ke depannya," ujarnya.

Menurutnya, pasangan nomor 01 merepresentasi bangsa sebagai nasionalis yang islami. "Ke depan Islam jadi presidennya dan nasional jadi wakilnya," Ma'ruf menjelaskan.

Ketua Umum nonaktif MUI itu mengaku sering disinggung soal usia yang dianggap tidak lagi produktif sebagai wakil presiden. Namun ia memiliki jawaban yang bijaksana soal alasan menerima sebagai cawapres Jokowi.

"Saya ingin meninggalkan manfaat yang baik bagi generasi zaman now. Kita bukan lagi berada di zaman old. Itu masa lalu," katanya.

Ia menegaskan membangun Indonesia tidak mudah karena negara ini sangat majemuk mulai dari agamanya hingga etnisnya. NKRI terbentuk dari masyarakat yang memiliki semangat ukuwah.

Pancasila, kata Ma'ruf, sebagai titik temu. Ia menganggap para ulama sangat luar biasa dapat memproklamirkan kebangsaan secara Islam.

"Jika ada yang bertentangan berarti orang itu masih punya mispersepsi keislaman dan kebangsaan," Ma'ruf menjelaskan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top