IMM Nilai Sikap Amien Rais Tak Sesuai Khittah Muhammadiyah

publicanews - berita politik & hukumAmien Rais diaptik Ketua PD Muhammadiyah Surabaya Mahsun Jayadi (kiri) dan anggota DPR Fraksi PAN Sungkono di sela-sela Tabligh Akbar Muhammadiyah 2018 di Islamic Centre Surabaya, Jawa Timur, Selasa (20/11). (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Ikatan Mahasiswa Muhamamadiyah (IMM) menilai peringatan Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amien Rais yang akan menjewer Ketua Umum Haedar Nashir bertentangan dengan semangat khittah Muhammadiyah. Ketua Umum DPP IMM Najih Prasetiyo mengatakan, pernyataan Amien tidak sesuai dengan semangat yang digagas dalam Muktamar Muhammadiyah 1971 di Makassar.

"Di situ ditegaskan bahwa Muhammadiyah tidak terikat dengan partai politik apapun, dan menjaga jarak yang sama dengan semua partai politik," ujar Najih Prastiyo dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (21/11).

Karena itu IMM akan berada di belakang Haedar Nasir bila mantan Ketua Umum PAN Amien Rais akan menjewernya karena membebaskan warga Muhammadiyah memilih siapa saja dalam Pilpres pada 17 April 2019 mendatang.

Menurut Prastiyo, semangat khittah Muktamar Muhammadiyah 1971 ditetapkan lagi dalam Tanwir Muhammadiyah 2002 di Denpasar Bali.

"Kami pertegas bahwa Muhammadiyah sesuai dengan khittah tidak dukung mendukung pasangan calon seperti halnya partai politik," kata Prasetiyo.

Minta Muhammadiyah Bersikap, Amien Rais: Saya Jewer Haedar Nashir

Di dalam khittahnya, ia menambahkan, tidak ada anjuran Muhammadiyah harus melakukan penyeragaman pilihan politik dalam perhelatan pilpres. Jika sampai mengeluarkan fatwa mendukung salah satu paslon, ia mengkhawatirkan Muhammadiyah akan terseret ke dalam pusaran politik praktis.

"Ini akan kontraproduktif bagi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah," katanya.
Prastiyo kembali menekankan bahwa Muhammadiyah adalah rumah bersama bagi seluruh elemen bangsa. Organisasi sayap Muhammadiyah mendukung sikap Ketua Umum PP Muhammadiyah yang menjaga netralitas dan tetap berada sebagai ummatan wasathon (posisi tengah).

"Yaitu dengan tidak memberi dukungan kepada salah satu capres," Prastiyo menegaskan.

Ia meyakini siapa pun yang terlpilih menjadi presiden, Muhammdiyah tetap akan menjadi mitra kritis pemerintah. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top