Gugurnya Dunia Pendidikan di Papua Akibat Ulah KKB

publicanews - berita politik & hukumSisa bangunan rumah para guru yang dibakar KKB. (Foto: istimewa)
PUBLICANEWS, Puncak - Pendeta Jupinus Wama dari Distrik Beoga, Puncak, Papua, menilai aksi kelompok kriminal bersenjata (KKB) sudah tidak berperikemanusiaan.

"KKB selain melakukan pembakaran dan penembakan yang menewaskan dua orang guru, juga mengganggu anak perempuan yang ada di kampung," kata Jupinus kepada wartawan di Beoga, Minggu (18/4).

Jupinus menggambarkan suasana Beoga kini mencekam. Banyak warga masih ketakutan dan khawatir KKB kembali berulah, sehingga mereka perlu kehadiran TNI-Polri. "Sekarang sudah relatif aman dengan kehadiran TNI-Polri sehingga akan memanggil kembali keluarga yang sempat lari ke hutan," ujarnya.

Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono, tim gabungan TNI-Polri berusaha melindungi masyarakat Papua dan memburu KKB pasca sejumlah teror terhadap warga Beoga. Tim gabungan melakukan pendekatan soft power dan hard powe.

Sementara, Kabaintelkam Polri Komjen Paulus Waterpauw yang terjun langsung ke Papua menegaskan segera menindak KKB tanpa pandang bulu apabila mereka terus menebar teror di Papua.

"Kalau mereka datang dengan perlengkapan seragam atau identitas khusus pasti kami akan tindak tegas, mengganggu dalam waktu tertentu, sudah aman, sudah landai, damai, kemudian dia terus melakukan upaya-upaya itu," kata Paulus saat berkunjung ke Asrama Biak, Papua, hari ini.

Menurutnya, KKB sering membuat kekacauan karena tidak memiliki pekerjaan. Oleh karena itu ia akan menjalankan amanah Kapolri menindak tegas KKB dengan merangkul semua jaringan.

"KKB tidak membawa sesuatu perlengkapan, dia melihat, mempelajari kelemahan-kelemahan yang ada di sana, termasuk masyarakat mereka sering ganggu, suka mengganggu karena tak punya pekerjaan. Hidupnya hanya seperti itulah kalau mau gangu," Paulus menjelaskan.

Sederet Teror Hingga Serangan KKB
Adapun sederet aksi brutal KKB yakni menembak guru Oktovianus Rayo (43) di Kampung Julukoma, Distrik Beoga Kabupaten Puncak, pada Kamis (8/4) sekitar pukul 09.30 WIT. Gerombolan ini dipimpin Sabinus Waker, mereka sedang menuju ke Ilaga.

Sorenya, mereka membakar bangunan SD, SMP, dan SMA di Kampung Julukoma, Distrik Boega. Esoknya, mereka kembali menembak guru honorer SMPN Beoga Yonaten Renden. Korbannya adalah Yonaten Renden.

Yonaten tertembak di dada saat bersama Kepala Dusun Junaedi mengurus jenazah Oktavianus Rayo di Kampung Onggolan, ekitar pukul 16.45 WIT. "Saat evakuasi ini, aparat gabungan Yonif 715/Mtl dan Koramil Beoga mendapatkan gangguan tembakan dari KKB, yang melakukan penembakan terhadap korban," ujar Kapen Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suriastawa,

KKB semakin ganas, kali ini menembak tukang ojek Udin (41) hingga tewas di Kampung Eromaga, Distrik Omukia, pada Rabu (14/4). Peluru menyasar ke dada kanan, tembus punggung, dan pipi kiri mengalami luka tembak.

Parahnya lagi, KKB bahkan juga menembak mati pelajar SMA Ali Mom (16) di Kampung Wuloni, Distrik Ilaga, Puncak, pada Kamis (15/4). Kapolres Puncak Kompol I Nyoman Punia mengatakan, korban tidak hanya ditembak. "Almarhum Ali Mom dicegat, dibacok, dan ditembak ketika mengantarkan pesanan pinang ke kampung Wuloni," kata Punia di kantornya, Jumat (16/4).

KKB juga membakar gedung sekolah dasar (SD) dan sejumlah rumah di Kampung Dambet. Termasuk yang dibakar adalah rumah Kepala Suku Ener Tinal, pada Sabtu (17/8).

Kasatgas Humas Nemangkawi Kombes M Iqbal Alqudusi menjelaskan tidak ada korban jiwa dalam pembakaran itu. Namun tiga rumah guru dan kepala suku Ener Tinal ludes terbakar.

Aparat Polri telah melakukan olah TKP di Dambet, hari ini. Adapun temuan barang bukti yakni honai (rumah adat Papua) yang terbakar, rumah guru yang terbakar dan pintu sekolah yang terbakar, serta satu selongsong peluru.

Sorotan dari Berbagai Pihak
Anggota Komisi I DPR Fraksi Gerindra Yan Permenas Mandenas meminta TNI dan Polri segera menangkap KKB yang meresahkan warga dengan teror dan serangan berulang kali itu. "Kalau bisa jangan di situ (dibunuh) tapi tangkap dulu biar bisa gali informasi sebanyak-banyaknya dari kegiatan aksi teror yang selama ini mereka lakukan," katanya, kemarin.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR Fraksi Golkar Bobby Adhityo Rizaldi meminta pemerintah mengevaluasi prosedur tetap (protap) keamanan di Papua demi menciptakan situasi yang kondusif. "Kita minta pemerintah segera evaluasi protap keamanan di Papua, agar lebih efektif dalam memelihara situasi yang kondusif," ujar Bobby.

Ketua DPP Partai Golkar itu menilai kekuatan senjata KKB kalah jauh dari TNI dan Polri. "Tapi efek kejut dan mendadak di wilayah sipil yang membuat resah dan ketakutan. Ini perlu dikaji kembali, agar ada pola baru dalam mempersempit ruang gerak KKB di sana," Bobby menambahkan.

Begitu juga Menteri Sosial Tri Rismaharini yang mengirimkan bantuan kepada warga Distrik Beoga yang mengungsi karena takut dengan KKB. Kemarin Kemensos mengitim bantaun ke Kabupaten Puncak.

"Kita kirim bantuan karena banyak warga yang mengungsi. Sehingga saya diminta oleh Bapak Menkopolhukam untuk mengirim bantuan ke sana dan sudah kita kirim," kata Risma.

Risma mengaku ingin memberikan langsung bantuan ke lokasi pengungsian. Namun karena faktor keamanan, ia mengurungkan niatnya.

"Tapi ya sudah kita kirim bantuan dulu, supaya bisa digunakan dulu untuk para pengungsi. Jadi aku mikir itu, konsentrasi itu, karena jangan sampai terlambat," ujarnya.

Simpati juga datang dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim atas gugurnya dua guru korban penembakan KKB Yonatan Randen dan Oktovianus Rayo. "Turut berbelasungkawa atas gugurnya dua guru hebat dalam menjalankan tugas di Distrik Beoga Papua," tulis Nadiem dalam Insta Story beberapa waktu lalu.

Ia pun memberikan penghormatan terakhir untuk kedua pahlawan tanpa tanda jasa itu. "Terima kasih atas pengabdianmu untuk pendidikan Indonesia, negara akan mengenang jasa-jasamu," kata Nadiem. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top