Kontroversi Dokter 'Cuci Otak' Terawan dan Vaksin Nusantara

publicanews - berita politik & hukumMantan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto (kiri). (Foto: Kementerian Kesehatan RI)
PUBLICANEWS, Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto membuat terobosan. Pasca metode 'cuci otak' melalui pembilasan otak intra-arterial untuk mengobati stroke yang banyak diakui mujarab, kini orang berbondong-bondong hendak menjalani suntik Vaksin Nusantara (Vaknus) untuk mendapatkan kekebalan melawan Covid-19.

Namun, Vaknus mendapat penolakan BPOM sebagai pemegang otoritas obat dan vaksin. Lembaga yang mempunyai wewenang meloloskan vaksin untuk mengatasi pandemi itu menegaskan terjadi ketidaksesuain pelaksanaan uji kinik dengan standar Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB) atau Good Clinical Practice (GCP).

BPOM selain menyetop juga mensyaratkan penelitian Vaknus diulang dari tahap praklinis hewan. Senada, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih mengatakan prasyarat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mutlak dan tidak bisa dikalahkan dengan sekadar semangat nasionalisme.

"Prosedur dan protokolnya itu harus juga disesuaikan, jangan hanya dipikir niat nasionalisme ini sendiri sehingga protokolnya cincai. Nggak bisa begitu," kata Daeng dalam diskusi daring bertema 'Siapa Suka Vaksin Nusantara', Sabtu (17/4).

Setali tiga uang, Juru Bicara Satgas Penanganang Covid-19 Wiku Adisasmito wanti-wanti agar tim peneliti vaknus harus mendapat izin dari BPOM. Bahkan, Wiku mengungkit Vaknus yang sebenarnya dikembangkan di Amerika Serikat tetapi diujicoba di Indonesia.

Suara kontra Vaknus, bagai merespon sejumlah mantan pejabat dan politisi Senayan yang mendatangi RSPAD Gatot Subroto, Rabu lalu. Mereka menyerahkan sampel darah agar kemudian mendapat suntik vaksin dalam 7 hingga 8 hari ke depan.

Jauh-jauh hari pembelaan terhadap Terawan sudah disampaikan Dahlan Iskan. Pemilik Grup Jawa Pos yang percaya metode pengobatan berdasar metode sel dentritik itu mengatakan Vaknus digagas Terawan dan didukung penuh perusahaan Farmasi Amerika Serikat Aivita Biomedical Corporation.

"Pengembangan pertama Vaksin Nusantara dilakukan di Indonesia dan menggunakan peralatan buatan Tanah Air," ujarnya.

Terawan sendiri pernah mengatakan bahwa vaksin yang dikembangkan timnya merupakan revolusi vaksin karena dibuat berdasar individual.

"Sebuah revolusi di dalam vaksin yang tadinya konservatif menjadi sebuah yang individual," ujar Terawan suatu ketika.

Peneliti Vaknus Yetty Movieta Nency menambahkan, vaksin yang dikembangkannya merupakan pertama di dunia menggunakan metode sel dendritik.

Vaksin tersebut dikembangkan berbasis sel dendritik autolog yang merupakan komponen dari sel darah putih. Dengan metode ini, pemberian vaksin bertujuan untuk merangsang respons imun spesifik terhadap antigen spike dari SARS CoV-2.

Sel dendritik yang telah mengenali antigen akan diinjeksikan ke dalam tubuh kembali dan akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap virus Corona

Hal itu yang tampaknya lebih dipercaya ketimbang temuan vaksin lain dari banyak negara. Pengusaha sekelas Aburizal Bakrie hingga mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo termasuk yang percaya proses pembentukan vaknus tersebut.

Bahkan, politikus PDIP Adian Napitupulu berani beda pandangan dengan koleganya di partai Banteng yang menolak Vaknus. Adian mengatakan, Vaknus menjadi pilihan bagi pengidap komorbid, seperti dirinya.

"Saya punya penyakit jantung, ring sudah 5. Komorbid, jadi ada penyakit sendiri," katanya.

Aktivis '98 itu telah mencari literasi dari Sinovac, AstaZeneca, hingga Johnson & Johnson yang justru memberi dampak pembekuan darah. Ia menpertaruhkan diri untuk disuntik Vaknus. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top