Perempuan 'Lone Wolf' Strategi Baru ISIS

publicanews - berita politik & hukumZakiah Aini, penyerang Mabes Polri seorang diri alias lone wolf dengan membawa pistol. (Foto: istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Perempuan melakukan serangan sendirian atau lone wolf ke Mabes Polri, Rabu (31/3) lalu, merupakan bentuk baru terorisme di Indonesia. Apa yang dilakulan Zakiah Aini (25) itu terbilang unik.

"Dalam kasus di Mabes Polri, karena tidak ditemukan pihak lain yang membantu untuk aksi serangan maka disebut teroris lone wolf," kata pengamat intelijen dan terorisme Stanislau Riyanta kepada Publicanews, Minggu (4/4) malam.

Riyanta menjelaskan, teroris lone wolf biasanya mengalami swaradikalisasi, teradikal secara mandiri melalui sumber terbuka seperti dari internet. Motifnya tentu saja untuk tujuan ideologis, dengan keyakinan pelaku akan mendapatkan ganjaran masuk surga, sesuai dengan bukti pada surat wasiat.

Menurutnya, kasus teror melibatkan perempuan bukan sekali ini. Ia merujuk pada kasus bom Surabaya, bom panci Indramayu, penyerangan mantan Menko Polhukam Wiranto, kasus bom Jolo di Filipina, adalah aksi-aksi yang melibatkan perempuan.

"Ini terjadi karena memang ideologi kekerasan ISIS mendorong siapapun pengikutnya, termasuk perempuan dan anak-anak, untuk ikut terlibat dalam aksi kekerasan," ujarnya.

Menurut Riyanta, ideologi ISIS tidak melarang wanita terlibat dalam aksi, berbeda dengan Alqaeda yang hanya memperbolehkan laki-laki akil balik terlibat dalam aksi. "Kelompok ideologi ISIS melibatkan wanita juga karena tujuan wanita dianggap bukan ancaman dan bisa mengelabuhi aparat," ia menegaskan.

Faktor lain dalam kasus bom bunuh diri pasangan suami istri, seperti dalam bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, karena mereka bereyakinan aksinya akan membuat mereka naik surga. Mereka mengajak orang terdekat, yakni pasangan. Bahkan anak-anaknya dalam kasus di Surabaya.

Sebelum beraksi, sang 'pengantin', sebutan eksekutor, akan dibekali beberapa strategi dalam menyerang dan mengaktifkan bom. "Tidak semua, konten-konten (internet) menyediakan dengan mudah bagaimana membuat bom," katanya.

Dalam membedakan teroris atau bukan, Riyanta mengingatkan tidak bisa diketahui hanya dari penampilan secara visual. Melainkan harus dengan dialog dan dari pengamatan sikap dan perilaku.

Alasan melakukan aksi teror, menurutnya, karena pada usia mereka sedang mencari jati diri dan butuh eksistensi. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh kelompok trans-nasional ISIS untuk merekrut pengikut dengan propaganda untuk menjerat anak muda sebanyak-banyaknya

"Terutama menyasar kaum milenial. Dari 6 kasus yang motifnya ideologi nampaknya semua milenial," Riyanta menjelaskan.

Para 'pengantin' wanita ini diinstruksikan oleh sang dalang atau atas inisiatif seperti di Medan, Surabaya, dan Makassar. Begitu pula serangan terhadap Mabes Polri.

Motifnya salah satunya dendam sebagai salah satu faktor pendorong. Namun aksi yang berujung pada mengorbankan nyawa sendiri itu karena ideologi. "Keyakinan yang kuat bahwa aksi dan kematiannya akan membawanya kepada kemuliaan, naik surga," ujar Riyanta.

Target 'Pengantin' Lone Wolf
Riyanta mengatakan target kelompok ISIS di Indonesia selama ini hanya dua, polisi dan tempat ibadah (gereja). Kasus Bom Thamrin dan Kampung Melayu, Jakarta, memang tempat umum tapi yang diincar juga polisi. "Ini karena polisi dan orang yang beda keyakinan dianggap thoghut, musuh yang harus diperangi," katanya.

Menurutnya, terjadi kecocokan antar aksi bom bunuh diri di Makassar dan penyerangan di Mabes Polri. Unsur kesamaan itu terlihat dari surat wasiat pelaku yang sangat mirip. "Tapi tentu saja paparan radikalnya jauh sebelumnya sudah terjadi," ujarnya

Pelaku merancang dan melakukan sendiri sehingga peluang terdetaksi oleh aparat keamanan menjadi kecil. Sangat jarang terjadi rencana aksi teror lone wolf dapat diketahui dan digagalkan oleh aparat keamanan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top