Penetapan Tersangka 6 Laskar FPI Menyalahi KUHP

publicanews - berita politik & hukumKomisioner Komnas HAM Choirul Anam (tengah) dan Beka Ulung Hapsara (kiri) memeriksa satu dari tiga mobil yang dikendarai polisi dalam kasus penembakan anggota FPI di Polda Metro Jaya, 21 Desember 2020. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Ahli hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menilai Polri keliru menetapkan 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) yang tewas sebagai tersangka. Hal itu bertentangan dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Di dalam Pasal 77 KUHP disebutkan kewenangan penuntutan pidana gugur jika tertuduh meninggal dunia.

"Kematian atau meninggalnya seseorang menjadi alasan gugurnya atau menutup hak untuk menetapkan orang sebagai pelaku kejahatan atau pelaku pelanggaran hukum," ujar Universitas Trisakti, Jakarta, itu kepada wartawan, Kamis (4/3).

Menurut Fickar, seharusnya pihak kepolisian menghentikan semua proses penyidikan terhadap 6 laskar FPI yang sudah meninggal. "Kalau yang sudah meninggal enggak ada manfaatnya ditetapkan sebagai tersangka dan ngaco dasar hukumnya. Berlebihan," ia menegaskan.

Hal senada disampaikan Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) laskar Front Pembela Islam (FPI) Abdullah Hehamahua. "Mereka bukan status tersangka, status saksi, terlapor. Mereka dibunuh dan ditetapkan sebagai tersangka. Ini luar biasa. Itu ilmu dari mana?" katanya.

Mantan Penasihat KPK itu heran dan baru pertama kali menemukan kasus orang yang sudah meninggal masih ditetapkan sebagai tersangka. "Ini baru pertama kali saya temukan," ia menambahkan.

Ketua tim advokasi laskar FPI Hariadi Nasution menyatakan keberatan atas penetapan tersebut. Ia menyebutkan polisi seperti menempatkan diri di atas undang-undang.

"Makanya tempatkanlah hukum sesuai dengan kedudukan hukum itu. Kita penegak hukum, itu hukum itu sendiri, bukan kita yang jadi di atas, seperti di atas undang-undang," katanya.

Kemarin, Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Brigjen Andi Rian Djajadi mengatakan setelah gelar perkara dalam kasus di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 pada 7 Desember 2020 ditetapkan tersangka, yaitu 6 anggota laskar FPi yang tewas dalam insiden berdarah itu.

Keenam tersangka merupakan pengawal Rizieq Syihab dalam peristiwa baku tembak dengan aparat kepolisian. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top