Demokrat Sebut Jhoni Allen Sebagai Masa Lalu, Tak Perlu Didengar

publicanews - berita politik & hukumJhoni Allen Marbun. (Foto: YouTube/media sosial)
PUBLICANEWS, Jakarta - Jhoni Allen Marbun mengeluarkan jurus tuding bahwa kudeta sebenarnya terjadi dalam peralihan Ketua Umum Partai Demokrat (PD) dari Anas Urbaningrum kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tuduhan itu langsung dibantah Ketua Bapillu PD Andi Arief. Ia mengatakan justru Anas yang dilindungi PD. "Permintaan DPD dan DPC agar Anas di-munaslub justru haknya dilindungi oleh Majelis Tinggi waktu itu," kata Andi kepada wartawan, Senin (1/3).

Majelis Tinggi melakukan penyelamatan hak Anas sebagai ketum sampai akhirnya Anas sulit diselamatkan karena menjadi tersangka KPK. "Itu ada dalam AD/ART. Jadi kebohongan-kebohongan Jhoni Allen tak usah didengar lagi, dia sudah jadi masa lalu," ujarnya.

Andi menjelaskan, ketika itu Anas kemudian menjadi Wakil Ketua Majelis Tinggi semata-mata demi melindungi Anas sendiri.

"Dalam kasus Anas, meski tuntutan munaslub besar waktu itu dan elektabilitas partai terus merosot, namun Anas tetap dalam perlindungan haknya dalam partai. Sampai akhirnya partai sulit melindungi karena tersangka korupsi," Andi menjelaskan.

Kemarin, Jhoni Allen menegaskan bahwa SBY selain bukan pendiri juga tidak berdarah-darah membesarkan PD. Bahkan, bagi Jhoni, SBY melalukan kudeta Ketua Umum Anas Urbaningrum.

"Siapakah orang yang pernah mengkudeta Partai Demokrat?" anggota DPR tiga periode itu mempertanyakan dalam pernyataan video 9 menit 25 detik tersebut.

Jhoni lalu mengatakan Anas terpilih sebagai Ketua Umum pada Kongres PD 2010 di Bandung. Ketika Anas tersandung kasus hukum, SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat dan juga presiden Republik Indonesia mengambil kekuasaan Ketua Umum melalui pembentukan presidium.

"Di mana ketuanya SBY, Wakil Ketua Anas Urbaningrum yang tidak memiliki fungsi lagi dalam menjalankan roda Partai Demokrat sebagai Ketua Umum. Inilah kudeta yang pernah terjadi di Partai Demokrat," katanya.

SBY kemudian menjanjikan hanya akan meneruskan kepemimpinan hingga periode Anas berakhir. Ternyata menjabat Ketua Umum melalui Kongres kedua PD di Surabaya, 2015. Jhoni menyebutkan ia diminta SBY membujuk Marzuki Alie agar tak mencalonkan diri akibatnya SBY menjadi calon tunggal.

Jhoni juga menuding rekayasa pemilihan ketua umum dalam Kongres PD di Jakarta pada 2020 yang akhirnya memilih Agus Harimurti secara aklamasi. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top