Terawan Prakarsai Vaksin Nusantara, Bisa Diproduksi 10 Juta Dosis Sebulan

publicanews - berita politik & hukumMantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. (Foto: Biro Pers Setpres)
PUBLICANEWS, Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan perkembangan hasil uji klinis vaksin Nusantara (Vaknus).

"Uji klinis I yang selesai dengan hasil baik, imunitas baik dan hasil safety. Kan uji klinis I mengontrol safety dari pasien. Dari 30 pasien imunogenitasnya baik," kata Terawan kepada wartawan, Rabu (17/2).

Terawan merupakan pemrakarsa Vaksnus berbasis sel dendritik yang sebelumnya telah dikembangkan oleh AIVITA Biomedical Inc di California, Amerika Serikat. Vaksin berasal dari sel dendritik autolog atau komponen dari sel darah putih yang dipaparkan dengan antigen protein S dari Sars-Cov-2.

Terawan menjelaskan sel dendritik yang telah mengenal antigen kemudian akan diinjeksikan ke dalam tubuh kembali. Di dalam tubuh, sel dendritik tersebut akan memicu sel-sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap Sars Cov-2.

Vaksin berbasis dendritik sel, Terawan menambahkan, dikenalkan dengan antigen Covid- 19 sehingga punya memori Covid-19. "Proses simpel dengan inkubasi seminggu kemudian jadi vaksin individual dan disuntikkan," ia menjelaskan.

Menurutnya, konsep vaksinasi yang general diubah menjadi personal. Ia memastikan produksi massal tetap bisa dilakukan. "Jadi orang pikir tidak bisa produk massal. Bahkan bisa sebulan bisa 10 juta, bisa dilakukan," ujarnya.

Vaksin telah diujikan pada 12 Oktober 2020 dengan penetapan Tim Penelitian Uji Klinis Vaksin Sel Dendritik oleh Kemenkes KMK No. HK.01.07/MENKES/2646/2020.

Uji klinis fase pertama dengan penyuntikan telah berlangsung hingga 11 Januari 2021. Dilanjutkan monitoring dan evaluasi pada 3 Februari 2021. Namun, Terawan belum memastikan kapan Vaksin Nusantara akan siap edar. Ia berharap Indonesia bisa sejajar dengan negara lain.

Vaknus yang prakarsai Terawan atas perintah Presiden Joko Widodo itu diyakini aman untuk segala usia, mulai dari anak-anak (di bawah 17 tahun) sampai usia di atas 60 tahun. Bahkan, aman untuk orang yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Vaksin tersebut dikembangan antara PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bersama AIVITA Biomedical asal Amerika Serikat, Universitas Diponegoro (Undip), dan RSUP dr. Kariadi Semarang. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top