Musuhi Islam, MUI Desak Presiden Perancis Minta Maaf

publicanews - berita politik & hukumSekjen MUI Anwar Abbas (Foto: suaraislam)
PUBLICANEWS, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak Presiden Perancis Emmanuel Macron meminta maaf kepada umat Islam. Sekjen MUI Anwar Abbas mengatakan, Macron perlu secepatnya mencabut ucapannya.

"Supaya tidak menjadi keresahan di kalangan masyarakat dunia, khususnya umat Islam," ujar Abbas dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/10).

Ketua PP Muhammadiyah ini mengatakan umat Islam akan memaafkan Macron jika mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

"Saya yakin dengan permintaan maaf itu, api permusuhan yang sudah menyala tersebut akan bisa padam secepatnya. Karena umat Islam adalah umat yang pemaaf dan cinta damai,” ia menambahkan.

Kecaman atas pernyataan Macron juga telah disampaikan secara resmi oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri. Kemenlu telah memanggil Duta Besar Perancis di Jakarta Olivier Chambard, Selasa kemarin.

"Kementerian Luar Negeri menyampaikan kecaman terhadap pernyataan yang disampaikan Presiden Perancis," kata Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah.

Perancis Semena-mena Menutup Masjid dan Deportasi Ratusan Muslim

Diketahui Macron menyatakan Islam adalah agama yang mengalami krisis di seluruh dunia. Pernyataan tersebut menyusul aksi penggal kepala guru di Perancis Samuel Paty karena membahas karikatur Nabi Muhammad SAW pada16 Oktober 2020 lalu.

Pemerintah Perancis berdalih guru tersebut tengah mengajarkan kebebasan berekspresi. Sebaliknya, Islam tidak membolehkan menggambar sosok nabi.

Pemantik kasus ini adalah majalah mingguan Perancis Charlei Hebdo yang dikelola kelompok Yahudi. Sampul majalah tersebut yang bergambar karikatur Nabi Muhammad telah menimbulkan satu serangan yang menyebabkan 11 anggota redaksi dan seorang polisi tewas.

Namun, majalah tersebut bergeming. Dalam edisi Selasa kemarin, majalah tersebut memuat karikatur Presiden Turki Recep Tayyip Erdogen.

Erdogen digambarkan memakai kaos dan celana pendek, memegang minuman, lalu tangan kirinya mengangkat baju wanita berhijab tetapi bokongnya terlihat. Digambarkan Erdogen mengucapkan kata 'Ooh, nabi!"

Karikatur itu kian memanaskan situasi di mana Pemerintah Turki dan sebagian negara Timur Tengah telah memboikot seluruh produk Perancis dan menarik dari rak-rak supermarket. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top