Testimoni Pengacara Brigjen Prasetijo, Dijamu Saat P21 di Kejari

publicanews - berita politik & hukumJamuan makan siang tampak Irjen Napoleon Bonaparte, Brigjen Prasetijo Utomo dan para pengacara, termasuk Petrus Bala Pattyona (kedua dari kanan). (Foto: Facebook/Petrus Bala Pattyona)
PUBLICANEWS, Jakarta - Pengacara Petrus Bala Pattyona merasa heran ada jamuan makan siang dalam penyerahan berkas tahap 2 atau P21 di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Petrus adalah penasihat hukum Brigjen Pol Prasetijo Utomo dalam kasus penghapusan red notice Djoko Tjandra.

Selain Prasetijo, tersangka Irjen Pol Napoleon Bonaparte dan pengusaha Tommy Soeharto ikut diserahkan. Hanya terpidana kasus hak tagih cessie Djoko Tjandra tak dihadirkan saat pelimpahan berkas dan tersangka di Kejari pada Jumat (16/10).

Berikut kisah yang dituturkan Petrus melalui akun Facebook-nya, seperti terlihat Minggu (18/10).

"Penyerahan Berkas Tahap 2 diselingi makan siang.

Sejak saya menjadi Pengacara tahun 1987, baru sekali ini di Penyerahan Berkas Perkara Tahap 2 - istilahnya P21, yaitu Penyerahan Berkas Perkara berikut Barang Bukti dan Tersangkanya dijamu makan siang oleh Kepala Kejaksaan.

Jumat 16/10 tepat jam 10 Para Penyidik Dittipikor Bareskrim bersama 3 Tsk (Brigjen Pol. Prasetijo Utomo, Irjen Pol. Napolean Bonaparte dan Pengusaha Tommy Sumardi) dalam kaitan penghapusan Red Notice Joko S. Chandra tiba di Kejaksaan Negeri Jaksel.

Suasananya sangat ramai karena banyak wartawan yang meliput, belum lagi Team Pengacara Para Tsk, krn 1 Tsk didampingi lebih dari 7 orang walau yang diperbolehkan saat wawancara P21 hanya didampingi 1 Pengacara karena terbatasnya ruangan.

Untuk administrasi P21 pertanyaan Jaksa Peneliti sudah standar seperti apakah Tsk nya sehat, mengerti mengapa dihadapkan ke Jaksa, apakah benar semua keterangan dalam pemeriksaan BAP sebagai Tsk, apakah benar apa yang dipersangkakan, adakah hal2 yang akan disampaikan sebelum Berkas ditandatangani?

Tanya Jawab tersebut tidak lebih dari 30 menit dan selanjutnya disiapkan kue2 jajanan pasar, kopi pahit, teh hangat dan tiba jam makan disiapkan makan siang, nasi putih pulen hangat dan soto Betawi bening pakai santan panas.

Baru kali ini di tahap P21 saya sebagai Pengacara Tsk dijamu makan siang.

Team Pengacara yang diizinkan naik ke lantai 3 untuk P21 masing - masing 1 orang, saya mendampingi Brigjen Prasetijo Utomo, Rekan Santrawan Paparang mendampingi Napolean, belakangan bisa nyusul ke atas Rekan Haposan Batubara, sementara Rekan saya Berman Sitompul, Rully Agung menunggu di lobby, dan Dion Pongkor mendampingi Pengusaha Tommy Sumardi di ruangan lain tetapi masih di lt 3.

Seusai makan siang Kajari menghampiri kami dan menyerahkan baju tahanan Kejaksaan ke kedua Tsk, sambil menjelaskan, mohon maaf ya Jendral, ini protap dan aturan baku sebagai Tahanan Kejaksaan.

Kedua Tsk langsung menerima, membuka baju dinas untuk mengenakan baju tahanan, karena Pa Kejari bilang dipakai sebentar karena di loby banyak wartawan yang meliput dan ini demi kebaikan bersama.

Kedua Tsk tak ada protes, menerima saja karena perlakuan yang sangat manusiawi, diorangkan, (diwongke). Seusai memakai baju tahanan masuk lift dan depan loby menghadapi pertanyaan wartawan sebelum masuk mobil tahanan Kejaksaan untuk balik ke Bareskrim.

Tks Pa Kejari Jaksel, Jaksa Tim Peneliti Berkas dan Tim dari Gedung Bandar atas perlakuan yang baik terhadap Para Tsk".


Dalam unggahan itu, Petrus menyempatkan mengunggah foto jamuan makan siang bersama. Hingga pagi ini, sebanyak 118 orang memberi respon.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan Anang Supriatna membenarkan hal tersebut. Namun , ia berdalih bahwa setiap penyerahan berkas perkara selalu mendapat nasi kotak.

Hanya saja, saat itu tak memungkinkan sehingga dibelikan soto di kantin. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top