Menhan Prabowo Tiba di Amerika, Begini Reaksi Pers Asing

publicanews - berita politik & hukumMenteri Pertahanan Prabowo Subianto bersama Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (20/1). (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sudah tiba di Amerika Serikat (AS). Ia akan berada di AS hingga 19 Oktober atas undangan Menhan Mark Esper.

"Sudah (tiba)," kata Juru Bicara Menhan Prabowo Subianto, Dahnil Azhar Simanjuntak, Kamis (15/9).

Kunjungan Prabowo tersebut menjadi sorotan dan kritik pegiat HAM, termasuk pemberitaan pers asing. New York Times menuliskan kedatangan Prabowo yang sudah dua dekade ditolak masuk Amerika itu dengan judul Indonesian Defense Chief, Accused of Rights Abuses, Will Visit Pentagon.

Media tersebut menyebutkan Prabowo selama ini menjadi paria alias 'yang tidak diinginkan' dalam urusan internasional. Mantan menantu Presiden kedua RI Soeharto itu disalahkan atas kekejaman yang dilakukan pasukan yang dipmipinnya.

"Mantan komandan pasukan khusus Indonesia yang ditakuti, disalahkan atas kekejaman yang dilakukan oleh pasukan yang dipimpinnya. Di bawah Presiden Bill Clinton, George W. Bush, dan Barack Obama, Prabowo dilarang mengunjungi Amerika Serikat," tulis media tersebut, Rabu waktu setempat.

Karpet Merah Prabowo di AS Setelah 20 Tahun Tertolak

Momen kunjungan ini merupakan sesuatu yang dinanti-nantikan Prabowo. "Kunjungan tersebut adalah puncak dari pencarian selama bertahun-tahun untuk mendapatkan kehormatan. Bagi Washington, ini menyoroti pentingnya Indonesia, sekutu AS yang berpotensi penting melawan Tiongkok," New York Times menulis.

Namun, kunjungan tersebut juga diartikan sebagai degradasi HAM ke masalah diplomatik kecil. Dimuat pula seruan Amnesty Internasional dan lembaga HAM lainnya yang medesak Presiden Donald Trump untuk membatalkan kunjungan mantan Danjen Kopassus tersebut.

Sebaliknya, Reuters memuat pembelaan pejabat senior Pentagon yang menyebutkan Prabowo adalah Menteri Pertahanan dari sebuah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

"Dia merupakan rekan kita, dari sebuah kemitraan yang sangat penting," kata penjabat yang tak disebutkan namanya itu. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Arif K Wibisono @arifkwibisono15 Oktober 2020 | 17:47:11

    Buah simalakama emang. Serba salah. Demi kebaikkan bangsa, harus dilakukan.

Back to Top