Ketika Pimpinan KPK Dibuat Baper Mundurnya Febri Diansyah

publicanews - berita politik & hukumKabiro Humas Febri Diansyah melepas kartu identitas pegawai KPK usai menyampaikan pengunduran dirinya di Gedung KPK, Kamis (24/9). (Fotio: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi hasil revisi diketok dalam rapat paripurna DPR pada 17 September 2019 lalu. UU Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan UU KPK yang dibuat penuh kontroversi itu pun sudah masuk lembaran negara sebulan kemudian.

UU baru yang dianggap mengebiri wewenang lembaga antirasuah memunculkan polemik di internal. Sejak itu, tak kurang 37 pegawai telah mengundurkan diri. Teranyar adalah Kabiro Humas Febri Diansyah dan eks Juru Bicara KPK sejak 6 Desember 2016 hingga 26 Desember 2019.

Wakil KPK Nawawi Pomolango mengklaim sebagai orang pertama di Gedung Merah Putih yang diajak bicara Febri soal rencana hengkang dari KPK.

Mantan hakim Tipikor itu mengaku kehilangan sosok yang bisa diajak diskusi. Ia pun sempat 'membela' Febri ketika sesama kolega pimpinan KPK menyindir kepergian Febri.

Meski Kehilangan, Wakil Ketua KPK Restui Febri Mundur

“Jadi mungkin sebaiknya hargailah yang pergi tanpa harus menyebut yang bertahan sebagai pejuang,” kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nawawi Pomolango, Minggu (27/9).

Namun, Nawawi juga tidak mengetahui di dalam KPK siapa yang benar-benar pejuang atau bukan. "Kesamaran keremangan ruangan, tak akan nampak jelas bayangan yang beranjak pergi atau tetap bertahan. Terlebih membedakan yang mana pejuang dan yang mana pecundang,” ujar Nawawi.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengatakan lebih hormat dan berbangga kepada mereka yang masih bertahan di KPK dengan segala kekurangannya. “Pejuang itu tak akan meninggalkan gelanggang sebelum kemenangan diraih walau kancah perjuangan anti korupsi kini berubah seperti apapun,” kata Gufron sehari setelah surat mundurnya Febri diterima pimpinan KPK.

Pegiat antikorupsi Febri bergabung ke KPK pada 2013 dengan nomor induk pegawai 000956. Melihat nomor pegawai tersebut, sosok alumnus UGM itu termasuk orang yang sudah makan asam garam di institusi yang diimpikan independen dalam pemberantasan korupsi. Di tengah banyak kompromi, ia menjelaskan mundur karena situasi telah berubah di lingkungan kerja KPK menyusul revisi UU KPK.

Laode Syarif Sesalkan Pengunduran Diri Febri Diansyah

"Saya menentukan pilihan ini meskipun tidak mudah meskipun sangat berat, saya ajukan pengunduran diri," kata Febri, Kamis (24/9).

Peneliti ICW Kurnia Ramadhana menyebutkan revisi UU KPK telah meluluhlantakkan kewenangan lembaga pemberantas korupsi. Sejak wacana revisi undang-undang, pegiat anti korupsi mencatat terdapat 26 hal yang akan melemahkan KPK. Pelemahan itu antara lain masuknya KPK sebagai lembaga negara di rumpun eksekutif kemudian pegawai KPK sebagai ASN membuat independen pudar.

Ia pun menyebut kemurnian KPK kian ternoda ketika pelanggar kode etik terpilih menjadi pimpinan KPK. Sepak terjang Firli Bahuri, misalnya, menyewa helikopter dinilai kian memburamkan hakekat pemberantasan korupsi.

Penyidik senior KPK Novel Baswedan bahkan menegaskan jika pemerintah tidak sungguh-sungguh mendukung KPK maka akan semakin banyak orang yang akan meninggalkan gelanggang. KPK dinilai semakin tidak memberikan harapan dalam upaya pemberantasan korupsi. (feh)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. WE_A @WandiAli28 September 2020 | 13:09:16

    Ya dg keterbatasan keadan, pastilah hal lumrah, ada org lama mundur, dan masuk yg lebih fresh dan muda. Tinggal komitmen dan konsisten yg tdk boleh berbeda. Itu prinsipnya.

  2. Adinda @Prmthadinda28 September 2020 | 10:49:57

    Disebutkan dlm twitternya bahwa beliau pergi krn merasa KPK sudah tidak berada di "jalurnya" lagi.

    Namun apapun keputusan beliau dan orang-orang yang memilih mundur lainnya, sebaiknya kita terus beri dukungan.

Back to Top