Fadli Zon Sebut DW Indonesia Anut Islamofobia

publicanews - berita politik & hukumAnak mengenakan jilbab dalam tayangan DWIndonesia, Jumat (25/9). (Foto: Twitter/@dw_indonesia)
PUBLICANEWS, Jakarta - Mantan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan Fadli Zon mengecam video yang diunggah DW Indonesia. Mereka mengomentari ulasan kanal berita tersebut mengenai pemakaian jilbab sejak belia di keluarga muslim di Indonesia.

Fahri Hamzah mengatakan, pemakaian jilbab sejak anak-anak justru mengajarkan identitas diri sejak dini. Ia menegaskan sikap toleran bukan karena pendidikan usia dini yang mengajarkan identitas diri.

"Justru yang menjadi teroris ekstrem itu karena tidak punya konsep diri. Inilah penyakit kaum radikal kiri dan kanan, tidak percaya diri lalu serang identitas orang lain," kata Wakil Ketua Umum Partai Gelora dalam utasnya di akun Twitter @fahrihamzah, Sabtu (26/9).

Kritik juga disampikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Menurutnya, DW Indonesia menunjukkan sentiman 'islamofobia'. "Liputan ini menunjukkan sentimen 'islamofobia' n agak memalukan utk kelas @dwnews," anggota DPR itu mencuit lewat @fadlizon.

Kemarin, DW Indonesia yang merupakan bagian dari kanal berita internasional DWnews mengunggah video berdurasi 3 menit 31 detik. Video bertajuk 'anak-anak, dunianya dan hijab' itu mempertanyakan apakah anak-anak yang dipakaikan jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan.

Psikolog Rahajeng Ika dan feminis Nong Darol Mohmada menjadi narasumber dalam ulasan tersebut. Kedua wanita tak berhijab itu memberikan pandangan singkat atas pemakaian jilbab sejak usia dini. Pernyataan mereka dalam video itu menuai beragam komentar warganet.

Seorang warganet mengunggah sosok Nong Darol Mahmada yang disebut sebagai pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL). Wanita berambut agak pirang itu disebutkan istri politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mohamad Guntur Romli.

“Gue baru engeh nara sumber yg dipakai @dw_indonesia istrinya anak PSI @GunRomli yg saat pilkada DKI 2017 mainan fear mongering agama. Pantesan narasinya kayak an**ng,” tulis @Toperendusara1.

Hingga Sabtu pagi ini, tayangan video tersebut telah diputar 793 ribu kali. DW Indonesia dalam pernyataannya mengatakan liputan tersebut sudah cukup berimbang. DW mendorong kebebasan berpendapat dan diskusi terbuka, selama sifatnya adil dan tidak diskriminatif. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top