Kapten Ruslan Buton, Pecatan TNI Tersangka Pengancam Jokowi

publicanews - berita politik & hukumRuslan saat ditangkap pada Kamis (28/5) di rumahnya di Wabula, Buton, Sultra. (Foto: media sosial)
PUBLICANEWS, Jakarta - Tagar #SaveRuslanButon terus dibanjiri komentar warganet. Video penangkapannya oleh tim babungan TNI-Polri terus diunggah ulang dengan tagar yang sudah menuai cuitan di atas 12 ribu, pada Jumat (29/5) malam.

Beberapa menyertakan pujian pada langkah tegap eks prajurit TNI AD dengan pangkat terakhir Kapten Infanteri itu. "Kerreeeennnnn... Meski ditangkap gw suka banget ama gesturnya... Melangkah gagah brani, gak pernah wajahnya menunduk...," cuit pemilik akun Twitter @yashadipura.

Ruslan ditangkap pada Kamis pagi kemarin. Warga Desa Wabula I, Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, itu kemudian diterbangkan ke Jakarta. Ia harus mempertanggungjawabkan surat terbukanya dalam video suara yang ia sebar pada 18 Mei 2020 lalu.

Di video itu, Ruslan menilai tata kelola berbangsa dan bernegara di tengah pandemi corona sulit diterima oleh akal sehat. Ia bahkan mengkritisi kepemimpinan Jokowi

Baginya, solusi terbaik untuk menyelamatkan bangsa Indonesia adalah Jokowi mundur. "Namun bila tidak mundur, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat," Ruslan mengancam.

Suara keras Ruslan kepada Jokowi bukan kali ini saja. Setidaknya, hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Center of Intelligence and Strategic Studies (CISS) Ngasiman Djoyonegoro alias Simon.

Menurut Simon, video tersebut substansi sebenarnya pernah beredar sebelum Pilpres 2019 atau sekadar reborn. Ia mengaitkan arah politik Ruslan yang berseberangan dengan Jokowi.

"Kan di Pilpres 2019 kemarin ia pendukung 02, jadi tak menuntut kemungkinan memang ada skenario-skenario tertentu untuk menciptakan ketidak-stabilan keamanan nasional," ujarnya.

Sikap politik Ruslan mulai tampak ketika mantan Komandan Kompi sekaligus Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau pada 2017 itu dipecat dari TNI AD pada 6 Juni 2018 lalu.

Pengadilan militer pada 2018 menjatuhkan hukuman penjara 1 tahun 10 bulan. Ia dinyatakan bersalah sebagai salah satu dari 10 pelaku yang diduga membunuh La Gode, petani cengkeh pencuri singkong parut 5 kilogram seharga Rp 20 ribu.

Lepas dari penjara, Ruslan kemudian membentuk kelompok eks Prajurit TNI dari 3 matra darat, laut, dan udara yang disebut Serdadu Eks Trimatra Nusantara. Ia mengangkat diri sebagai Panglima Serdadu Eks Trimatra Nusantara tersebut.

Kini, pria kelahiran 4 Juli 1975 itu akan kembali berhadapan dengan jeratan hukum. Ruslan terancam pasal berlapis.

"Tersangka RB (Ruslan Buton) dapat dijerat dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan/atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang dilapis dengan Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman pidana 6 tahun dan/atau Pasal 207 KUHP dapat dipidana dengan ancaman penjara 2 tahun," kata Kabagpenum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan, sore ini.

Ruslan kini menjadi tersangka ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo. (feh)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. shes one the @siswandi29 Mei 2020 | 23:00:47

    Pejuang kesiangan dan membentuk golongan kelompok orang stres. Percuma pernah jadi prajurit TNI yg kami sangat bangga2xkan.

  2. Anak Gaul @gakasikah29 Mei 2020 | 22:07:55

    satu lagi pasukan keraton masuk bui. kebanyakan mimpi kali?

Back to Top