ICW Sebut KPK Mencla-mencle, Tak Ada Nyali pada PDIP

publicanews - berita politik & hukumKetua KPK Firli Bahuri. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai mencla-mencle dalam kasus penggeledahan DPP PDIP. Hal itu dilatari karena KPK tak ada nyali pada partai yang kini berkuasa di pemerintah ataupun legislatif itu.

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Kurnia Ramdhana mengatakan KPK tidak memiliki sikap yang jelas dalam kasus yang melibatkan partai penguasa.

"Sekarang kan mencla-mencle sikap KPK saat ini," kata Kurnia dalam dikusi bertajuk 'Menakar Legislasi Antikorupsi di Tahun 2020' di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Pusat, Senin (20/1).

Menurut Kurnia, selama ini, KPK bisa mengegeleh banyak tempat yang menjadi sarang korupsi. "Masa ruangan ketua MK bisa disegel, KPU bisa, tapi justru mungkin salah satu ruangan di kantor PDI-P tidak bisa diperiksa KPK," ujarnya.

Sementara itu, di tempat yang sama, Direktur Center for Media and Democracy LP3ES Wijayanto mengatakan gamangnya KPK lantaran alasan kekuasaan besar yang dimiliki PDIP di pemerintahan, baik di eksekutif maupun legislatif.

"Tentang ini saya pesimistis KPK akan bisa tegas ke PDIP. KPK dinilai tidak akan berani bertindak tegas terhadap PDIP. Menurut saya KPK tidak akan berani," kata Wijayanto

Diketahui penyelidik KPK gagal menyegel Gedung DPP PDIP, di jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta menyusul operasi tangkap tangan (OTT) Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan kader PDIP Harun Masiku sebagai tersangka.

Diduga eks kader Partai Demokrat itu menyiapkan Rp 900 juta diperuntukkan bagi Wahyu untuk membantunya melapangkan jalan menuju Senayan sebagai anggota DPR RI pergantian antarwaktu (PAW).

Harun dinyatakan buron. Ditjen Imigrasi menyebutkan Harun telah bertolak ke Singapura pada 6 Januari 2020. Namun, diberitakan Harun berada di Indonesia saat OTT Wahyu Setiawan, 8 Januari 2020. (feh)

Berita Terkait

  • Tidak ada berita terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top