Harun Pulang dari Singapura? Demokrat Desak Buka Manifes Batik Air

publicanews - berita politik & hukumHarun Masiku (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Politikus Partai Demokrat Jansen Sitindaon mendesak Kemenkum HAM membuka CCTV di Bandara Soekarno Hatta. Pernyataan Jansen ini menyusul pemberitaan Koran Tempo yang menceritakan kronologi kepulangan eks caleg PDIP Harun Masiku.

"Saya sudah baca @korantempo hari ini. Skandal besar ini jika terbukti: ketika OTT, Harun sudah ada di Indonesia bukan di singapura."
cuit Jansen melalui akun twitternya @jansen_jsp, Sabtu (18/1).

Harun Masiku telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Harun lolos dalam operasi tangkap tangan (OTT), Rabu (8/1). Kini berstatus buron.

Menurut Jansen selain CCTV, cukup gampang membuktikan tulisan Tempo tersebut. "Membuktikan tulisan Tempo ini gampang sekali, buka saja manifest @batikAirINA ID 7156 cek nama harun masiku disana," cuit Jansen.

Jansen berharap maskapai Batik Air pun membantu KPK. "Untuk kasus ini saya berharap @batikAirINA membuka manifes penumpang ID 7156 yang terbang dari Changi Singapura tanggal 7 Januari," ujarnya.

Dibukanya CCTV dan manifes penumpang, katanya, membuat kasus ini terang benderang dan tidak dibuat rumit.

Sebagaimana ditulis di Koran Tempo, Harun balik dari Singapura menumpang pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 7156.

Pesawat dengan nomor registrasi PK-LAW ini terbang pada pukul 16.35 waktu Singapura dari Gate A16 Bandara Changi, dengan mengangkut 118 penumpang.

Eks politkus Partai Demokrat itu menempati kelas bisnis -atau di penerbangan Batik Air disebut "C Class"- bersama dua penumpang lain. Harun duduk di kursi nomor 3C. Dua penumpang lainnya duduk di kursi nomor 2A dan 2D.

Pesawat yang membawa Harun mendarat di Cengkareng pada pukul 17.03 WIB. Para penumpang turun dari pesawat melalui Terminal 2F.

Dalam tulisan Tempo itu disebutkan berdasar keterangan beberapa saksi mata, karena duduk di kelas bisnis, Harun melenggang cepat meninggalkan pesawat, tujuh menit setelah pesawat mendarat.

Saat itu, Harun mengenakan kaus lengan panjang biru tua, celana hitam, serta sepatu sport yang juga berwarna hitam. Ia terlihat menenteng tas ukuran laptop dan tas plastik belanja, diduga belanjaan di bandara.

Beberapa belas menit kemudian, ia dihampiri seorang pria berpakaian Bea-Cukai. Menurut seorang yang melihat, lelaki yang perawakannya lebih pendek dari Harun ini menemaninya melintasi pos pemeriksaan Imigrasi Bandara.

Anehnya, saksi ini tidak melihat Harun melalui pemeriksaan manual petugas layaknya penumpang lain. Diperkirakan Harun menggunakan jalur khusus paspor elektronik. Pria berseragam terus menemani Harun melewati area pengambilan bagasi.

Harun dan petugas bea cukai sempat berbincang santai. Kemudian, pria berseragam terus menemani Harun melewati pemeriksaan Bea Cukai, hingga mereka meninggalkan area kedatangan menuju tempat antrean taksi.

Harun memesan taksi Silver Bird, Toyota Alphard. Saksi menyatakan tidak memperhatikan pelat nomor taksi itu. Seorang berbaju petugas pendukung Lion Air-maskapai yang satu grup dengan Batik-datang mendorong troli mengangkut koper. Koper itu kemudian dimasukkan ke taksi Harun.

Saksi yang sama menambahkan, pria berseragam terus menunggu hingga taksi Harun beranjak pergi. "Harun membuka jendela dan melambaikan tangan kepada pria berseragam itu," ujarnya.

Informasi lain menyebutkan, Harun kemudian menuju salah satu hotel di pusat Kota Jakarta. Esok harinya, seperti ditulis majalah Tempo, Harun dijemput koleganya, Nurhasan, untuk kemudian diantarkan ke kompleks Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jalan Tirtayasa Nomor 6, Jakarta Selatan.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto disebutkan pula ada kemungkinan berada di area yang disebut-sebut merupakan tempat tinggal seorang petinggi intelijen itu.

Pada hari yang sama KPK menangkap Wahyu di dalam pesawat di Bandara Soekarno Hatta, tujuan penerbangan ke Belitung.

Secara bersamaan petugas komisi antikorupsi juga menangkap Saeful Bachri, Donny Tri Istiqomah, dan Agustiani Tio Fridelina.

Sementara petugas yang menuju PTIK teradang. Mereka baru bisa keluar pada Kamis dini hari.

Dalan kasus ini Hasto telah membantah berada di PTIK. Demikian pula Nurhasan yang disebut mengantar Harun, ia mengatakan di Kemayoran mempersiapkan Rakernas PDIP.

Ditjen Imigrasi pun memastikan, Harun bertolak ke Singapura pada 6 Januari. Tidak disebutkan apakah Harun sudah kembali ke Tanah Air. (feh)

Berita Terkait

  • Tidak ada berita terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top