Prostitusi Daring, Mengejar Rejeki Berujung Jeruji

publicanews - berita politik & hukumVanessa Angel dan Putri Amelia (Foto: istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Sosok artis Vanessa Angel dan eks Finalis Putri Pariwisata Putri Amelia mendadak viral. Namun, popularitas direnggut dengan cara instan. Mereka melambung karena kabar prostitusi daring.

Suara miring pun dialamatkan kepada mereka. Memilih jalan pintas yang berisiko menyangkut harga diri, karir berakhir, bahkan merusak nama besar keluarga.

Polda Jawa Timur menangkap Vanessa Angel di sebuah hotel di Surabaya, Sabtu, 5 Januari 2018. Sebelum tertangkap, Vanessa mengunggah status instagram 'mengejar rejeki di tahun 2019' yang viral dijadikan jargon.

Artis 28 tahun itu ditangkap bersama model Avriellia Shaqqila dan tiga mucikari. Vanessa disebut pasang tarif Rp 80 juta, sedangkan Avriellia Shaqqila bertarif Rp 25 juta. Pemesannya adalah pengusaha kaya bernama Rian yang tak pernah muncul.

Polisi melepas sang pengusaha karena berstatus hanya saksi. Padahal saat penangkapan sosok Rian ikut terciduk. Polisi beralasan saksi tidak bisa dijerat, polisi justru membidik sang mucikari.

"Karena tidak ada undang-undang yang menjerat. Sementara kita periksa sebagai saksi. Pasalnya yang kita terapkan mucikari, karena penyedianya kan mucikari," kata Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Harissandi.

Vanessa diperiksa kurang lebih 25 jam di Mapolda Jatim. Dia dibolehkan pulang karena sebagai saksi. Kasus bergulir, hasil penyelidikan menetapkan Vanessa sebagai tersangka menyebarkan konten pornografi.

Sahabat artis Jane Shalimar itu kemudian dijemput Polda Jatim menjalani pemeriksaan sebagai tersangka. Ia harus meringkuk di Rutan Polda Jatim untuk kebutuhan penyidikan.

Vanessa sempat meminta maaf kepada masyarakat dan pengguna media sosial atas peristiwa itu. Dengakui jika dirinya salah. Ia juga mengaku khilaf atas perbuatannya yang merugikan ini.

"Saya menyadari bahwa kesalahan dan kekhilafan yang telah saya lakukan telah merugikan banyak orang," kata Vanessa.

Begitu juga model Avriellia turut diperiksa penyidik sebagai saksi. Di depan wartawan, Avriellia meminta maaf kepada publik. "Saya Avriellia meminta maaf yang selama ini sudah dengan saya," ujar Avriellia sambil menangis.

Kasus Vanessa berakhir di Pengadilan Negeri Surabaya. Ia divonis 5 bulan penjara. Dari sel Polda Jatim ia dipindah ke Rutan Perempuan Klas IIA Surabaya di Medaeng Sidoarjo sejak 30 januari 2019.

Hampir setahun penangkapan itu, Polda Jatim kembali menangkap artis di kasus serupa. Eks finalis Putri Pariwisata Putri Amelia yang mengikuti jejak Vanessa. Ia digerebek di sebuah hotel di Kota Batu, Jatim 25 November 2019.

Kanit 5 Subdit 3 Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKP Mohammad Aldy Sulaiman mengatakan Putri diduga terciduk saat berhubungan badan dengan pemesannya.

"Yang jelas saat kami lakukan upaya paksa memang didapati satu pasang melakukan hubungan badan," kata Aldy.

Polisi juga menangkap sang mucikari berinisial J (51) di waktu bersamaan hanya berbeda kamar dengan Putri. Dari penggerebekan itu polisi mengamankan sejumlah barang bukti.

"Kondom, celana dalam, tisu bekas, pakaian," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung.

Pemeriksaan terus dilakukan hingga mucikari J ditetapkan tersangka, sedangkan Putri dipulangkan pada 27 Oktober 2019.
Putri dinyatakan korban prostitusi daring.

Ironis, Prostitusi daring di Indonesia menunjukkan pergeseran fenomena sosial di tengah masyarakat. Ini terjadi seiring kemajuan teknologi yang salah dimanfaatkan. Apa pemicunya?

Terciduknya Vanessa dan Putri sebagai bukti selebritas mau terlibat dalam prostitusi daring. Mereka 'memasarkan' diri melalui media sosial instagram.

Menurut pengamat isu perempuan dan keadilan gender dari Universitas Indonesia Sulistyowati Irianto ada tiga kategori Pekerja Seks Komersial (PSK) di negara Asia termasuk Indonesia.

Kelompok pertama yang dominan adalah PSK kelas bawah yang dipicu desakan ekonomi. Lalu kelompok kedua praktik prostitusi secara terstruktur ada penyedia atau mucikari merekrut kalangan artis ditarif mulai Rp 10-100 jutaan.

Terakhir, kelompok PSK kelas atas alias grade A. Mereka berparas cantik, berpendidikan, memilih profesi ini dengan bayaran di atas ratusan juta.

Pengamat gaya hidup sekaligus penulis buku Jakarta Undercover Moamar Emka menyebut bahwa melacur sejak lama dianggap sebagai 'pekerjaan sampingan' banyak selebritas terutama dari golongan kelas menengah ke bawah.

Namun, Kriminolog UGM Suprapto mengakui terjadi pergeseran sosial akibat faktor lingkungan. Siapapun bisa menganggap menjadi PSK mampu memenuhi kebutuhan gaya hidup.

Sosiolog dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Sigit Rochadi menilai fenomena prostitusi merupakan cara menjaga eksistensinya sebagai orang populer. Mereka butuh banyak biaya agar tetap pamor.

"Dari sisi psikologis, biasanya pelaku memiliki konsep diri negatif sehingga tidak memiliki penghargaan terhadap dirinya sendiri," ujar Sigit.

Praktisi teknologi informasi Ruby Alamsyah menilai pemicu maraknya prostitusi daring lantaran lemahnya penegakan hukum dan ringannya hukuman sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku.

"Kurangnya sumber daya manusia dan peralatan yang dimiliki kepolisian juga menjadi kendala,” tukasnya.

Sebagai gambaran, hanya muncikari yang ditangkap dan bakal dikenakan Pasal 296 KUHP jo Pasal 506 KUHP dengan ancaman hukuman penjara 1 tahun 4 bulan. Namun, belum ada pasal pidana dalam KUHP untuk konsumen dan PSK. Begitu pula dalam UU ITE.

Kebanyakan ahli sepakat terlepas tuntutan ekonomi, aspek gaya hidup konsumtif menjadi pemicu masyarakat ingin terjerumus ke dunia prostitusi. (imo)

Berita Terkait

  • Tidak ada berita terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top