Grasi untuk Annas Maamun adalah Hak Prerogratif Presiden

publicanews - berita politik & hukumPresiden Joko Widodo. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Bogor - Presiden Joko Widodo mengabulkan permohonan grasi terpidana kasus korupsi eks Gubernur Riau Annas Maamun (79). Annas menderita beragam penyakit dan dengan grasi tersebut ia akan bebas pada 3 Oktober 2020 atau setahun lebih awal.

Jokowi mengatakan, pemberian grasi sehingga mengurangi hukuman dari vonis kasasi Mahkamah Agung (MA) 7 tahun menjadi 6 tahun semata karena alasan kemanusaiaan.

Keputusan grasi, Jokowi menambahkan, setelah ia memperoleh pertimbangan dari MA dan Menko Polhukam. "Memang dari sisi kemanusiaan memang umurnya juga sudah uzur dan sakit-sakitan terus. Sehingga dari kacamata kemanusiaan itu diberikan," ujar Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/11).

Menanggapi suara yang menyayangkan grasi kepada terpidana korupsi, Jokowi mengatakan grasi merupakan hak presiden sesuai UUD 1945. "Grasi itu adalah hak yang diberikan kepada Presiden atas pertimbangan MA. Itu jelas sekali dalam UUD kita. Jelas sekali," Jokowi menegaskan.

Selama ini, tidak semua permohonan grasi selalu ia kabulkan. Menurutnya ada ratusan permohonan grasi setiap tahun. "Coba dicek berapa yang mengajukan, berapa ratus yang mengajukan dalam satu tahun, yang dikabulkan berapa. Dicek betul," Jokowi menegaskan.

Masih Ada Kasus Lain, KPK Kaget Annas Maamun Dapat Grasi

Dalam vonis hakim Pengadilan Tipikor Bandung, Annas terbukti menerima 166.100 dolar AS dari pengusaha Gulat Merali Emas Manurung. Suap diberikan dalam perkara korupsi alih fungsi lahan kebun kelapa sawit di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Annas juga terbukti menerima uang Rp 500 juta dari Edison Marudut melalui Gulat Medali Emas Manurung dalam pengerjaan proyek di lingkungan Pemprov Riau.

Kalapas Sukamiskin Abdul Karim mengatakan, Annas terus menjalani perawatan sejak 14 April 2015 di berbagai rumah sakit di Bandung. Ia mengalami penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) atau penyakit peradangan paru yang berkembang dalam jangka waktu panjang.

Gubernur Riau periode 2006-2014 itu juga menderita dispepsia syndrome (depresi), gastritis (lambung), hernia dan sesak nafas yang mengharuskannya menggunakan bantuan oksigen setiap hari.

KPK diketahui tengah menyidik kasus baru yang melibatkan Annas. Kasus ini menjerat tiga tersangka baru, salah satunya korporasi PT Palma Satu. Adapun dua tersangka lainnya adalah Legal Manager PT Duta Palma Group Serta Suheri dan pemilik PT Darmex Agro/PT Duta Palma Surya Darmadi. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top