Kasus Novel Baswedan

Polri Diminta Telusuri Pernyataan Kontroversial Dewi Tanjung

publicanews - berita politik & hukumAktivis HAM Haris Azhar usai menjadi pembicara di sebuah diskusi di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, Sabtu (9/11). (Foto: publicanews/bimo)
PUBLICANEWS, Jakarta - Direktur Lokataru Foundation Haris Azhar meminta Polri menelusuri rekam jejak Dewi Tanjung. Wanita asal Padang yang tercatat tinggal di Bogor itu jadi pusat perhatian setelah menuding Novel Baswedan merekayasa kasus penyerangannya.

"Saya pikir polisi punya sejumlah kecerdasan, kelengkapan, dan keberanian untuk memeriksa fakta-fakta tentang Dewi Tanjung," kata Haris kepada wartawan usai menjadi pembicara diskusi di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, Sabtu (9/11).

Ia menilai tuduhan-tuduhan yang disampaikan wanita bernama asli Dewi Ambarwati itu tidak mendasar. Kader PDIP itu juga tidak memiliki kewenangan dan hanya mengandalkan cuplikan gambar salah satu televisi swasta sebagai argumentasi.

"Kepalsuan yang dia lihat pakai maya, tapi enggak dibuktikan dengan hal yang menjadi concern terhadap Novel. Dia enggak punya bukti apa-apa selain cukilan gambar di media," Haris menjelaskan.

Bahkan, menurut eks Koordinator KontraS tersebut, Presiden Jokowi tak mampu mengungkap pelaku dan dalang di balik kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK itu. Negara, ia menambahkan, sudah pesimistis.

"Jadi Jokowi tidak akan menyelesaikan kasus Novel Baswedan. Kalau juru bicaranya enggak bisa ngomong gitu, biar saya yang ngomong, dia tidak akan menyelesaikan kasus Novel," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa presiden berjanji menyelesaikan kasus yang dua tahun silam belum terungkap. Haris mengatskan, tim teknis Polri yang dibentuk untuk mengusut kasus Novel tidak memberikan kemajuan.

"Berbagai pihak, berbagai survei sudah berulang-ulang memberi catatan penegakan hukum di zaman Jokowi itu jeblok dan (contohnya) kasus Novel Baswedan ini," kata eks kuasa hukum Rocky Gerung itu.

Haris mengaku telah melakukan investigasi dalam kasus tersebut dan mengantongi adanya nama besar. "Memang temuan ini orang yang sangat tinggi keterlibatannya dan Jokowi saya pikir dia enggak berani," ia menandaskan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top