Capim KPK Nawawi Pomolango Sindir Penyadapan KPK Berlebihan

publicanews - berita politik & hukumCapim KPK Nawawi Pomolango (kiri) menjalani uji kepatutan dan kelayakan capim KPK di Komisi III DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (11/9). (Foto: Publicanews/Bimo)
PUBLICANEWS, Jakarta - Calon pimpinan (capim KPK) Nawawi Pomolango setuju terhadap wacana pengawasan terhadap penyadapan yang dilakukan oleh KPK. Pengawasan tersebut, kata Nawawi, dapat dilakukan melalui revisi Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.

"Karena harus hati-hati apa yang mau disadap," ujar Nawawi saat menjalani fit and proper test dengan Komisi III DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/9).

Lembaga pengawas tersebut juga bisa berperan memberikan izin penyadapan agar lebih terfilter. Selama menjadi hakim, Nawawi mengaku pernah menangani kasus hukum dengan praktik penyadapan.

Ia bercerita, jaksa dari KPK pernah ingin memutar rekaman penyadapan yang isinya di luar ranah perkara yang diusut. Nawawi pun mengkritik penyadapan KPK yang dinilai berlebihan.

"Saya pernah menangani perkara korupsi terdakwa Ahmad Fathanah. Saya ketua majelisnya. Dalam perkara Fathanah ini kebetulan banyak wanita-wanita dan banyak percakapan yang disadap," katanya.

Nawawi kemudian menjawab pertanyaan anggota Fraksi PAN Wa Ode Nur Zainab tentang kapasitas KPK yang tak boleh berlebihan. Ia meminta KPK harus memilah dulu bentuk percakapan pihak terperiksa.

"Ternyata percakapan yang akan diputarkan ini memang tak punya relevansi dengan unsur Tindak Pidana Korupsi itu. Merayu cewek, apa hubungannya dengan perkara korupsi," Nawawi menjelaskan.

Sementara anggota Fraksi PKS Nasir Djamil sempat terkejut endengar sindiran Nawawi menyebutnya pernah mengajukan surat pembebasan rekannya yang berperkara.

"Sosok beliau ini saya kenal, malah bukan sebagai anggota Dewan. Waktu itu saya mmenjabat Ketua PN Jaktim, datang surat permohonan agar dikeluarkan surat keterangan bersih secepatnya karena ada rekan beliau yang mau jadi bupati atau wali kota di mana itu," kata Nawawi.

Mendengar pernyataan Nawawi, Nasir mengatakan hakim yang berkarir 30 tahun itu menuduh orang yang salah. "Bukan Nasir ini, Nasir lain itu," Nasir menjawab.

Nawawi merasa yakin dengan pernyataanya. "Ah Bapak itu. Sampai sekarang masih ada di saya surat itu," kata Nawawi.

"Saya tidak pernah maju walkot atau bupati," Nasir menimpali.

Ia pun mengancam akan membuktikan surat tersebut. "Kalau saya terpilih, saya bawa surat itu ke sini. Masih ada itu," Nawawi menambahkan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top