Konflik Internal Partai

Kader Keluhkan Tindakan Otoriter Elit Golkar

publicanews - berita politik & hukumKetua DPD Golkar Sultra Ridwan Bae ketika dilarang masuk ke dalam kantor DPP Partai Golkar yang dijaga petugas berseragam AMPG beberapa waktu lalu. (Foto: istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Pengurus Pleno DPP Partai Golkar Sirajuddin Abdul Wahab mengeluhkan terjadinya perilaku otoriter dan diskriminatif dari pimpinan partai. Dalam keterangan tertulisnya, Sirajuddin menyebut Golkar kini menjadi partai politik minimalis yang sekadar berburu jabatan menteri sehingga menjadi bahan tertawaan.

"Hampir setiap hari selalu saja muncul drama konyol yang kemudian menjadi pemberitaan pers," ujar Sirajuddin, Minggu (8/9).

Ia mencontohkan drama perebutan kantor DPP Partai Golkar, pengerahan preman untuk menjaga kantor DPP, pemecatan, hingga rapat-rapat pengurus yang berlangsung di sejumlah tempat.

Drama-drama tersebut, menurut Sirajuddin, mencoreng nama besar partai berumur 54 tahun itu. "Sejarah mencatat Partai Golkar sarat pengalaman. Tetapi faktanya kini Golkar tak bisa mengurus dirinya sendiri," katanya.

Sirajuddin menilai ketua umum saat ini tak mampu mengelola perbedaan pendapat dan aspirasi kader. Ketidakmampuan itu memunculkan tindakan otoriter dan menerapkan kebijakan diskriminatif.

Saat ini, ia menambahkan, Golkar seolah cukup menjadi koalisi pemerintah terbaik guna mendapatkan jabatan menteri. "Karena itu, konsolidasi partai pasca Pemilu 2019 tidak masuk skala prioritas DPP Golkar," ujar inisiator Generasi Muda Partai Golkar (GMPG) itu.

Hingga kini Golkar belum menyelenggarakan rapat pleno sehingga jadwal pelaksanaan Munas belum jelas. Menurutnya, para kader memang tidak berharap banyak dari elit Golkar.

"Hari-hari ini, orang-orang di DPP sedang sibuk menimbang-nimbang kader siapa menjadi menteri apa," ia menegaskan.

Adanya musyawarah nasional luar biasa (munaslub), menurutnya, dapat mengakhiri kepemimpinan Partai Golkar yang otoriter dan diskriminatif.

"Kalau opsi Munas dihalang-halangi, opsi musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) menjadi pilihan yang tak bisa dihindari," Sirajuddin menandaskan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top