Penasihat Berharap Pimpinan KPK Tidak Diisi Kucing Kurap

publicanews - berita politik & hukumPegawai KPK dan massa Koalisi Sipil Kawal KPK menggelar aksi di depan lobi Gedung KPK, Jakarta, Jumat (30/8) siang. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Penasihat KPK Mohammad Tsani Annafari turut bergabung dengan pegawai KPK dan massa Koalisi Sipil Kawal KPK menggelar aksi menolak calon pimpinan KPK bermasalah. Tsani diketahui sempat mengancam akan mundur dari jabatannya bila ada kandidat yang cacat etik terpilih nantinya.

Dalam orasinya, Thani mengingatkan bahwa pimpinan terpilih yang bermasalah bisa berdampak langsung pada kinerja internal KPK. Ia mengibaratkan pimpinan KPK yang bermasalah seperti kucing kurap.

"Karena kalau dipimpin kucing yang banyak kurapnya, bukan hanya lembaga ini yang bubar, kita bisa ketularan. Kalau capimnya tadi 'kurapnya' enggak lapor LHKPN, nanti semua pegawai KPK ketularan enggak lapor LHKPN. Kalau kurapnya tadi itu namanya pelanggaran etik, nanti semua pegawai KPK akan ketularan melanggar etik. Karena itu tolak kucing kurap. Setuju?" ujar Tsani.

Tsani pun berharap Presiden Jokowi dan DPR mendengar aspirasi mereka untuk hanya meloloskan nama-nama calon pimpinan KPK yang berintegritas.

"Kita tidak rela kantor yang semegah ini diduduki oleh para kucing kurap, dan kalau itu terjadi maka kita bisa bayangkan gedung megah ini akan menjadi kandang dimana kucing kucing kurap berkeliaran. Mengerikan sekali," kata Tsani bertamsil.

Diketahui, seleksi capim KPK periode 2019-2023 menuai protes sejak masa pendaftaran. Gelombang protes semakin terdengar usai Panitia Seleksi Capim KPK meloloskan 20 nama pada tahap profile assessment.

Di antara 20 nama itu, terdapat calon yang tidak patuh membuat Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) hingga beberapa nama yang punya catatan kelam masa lalu.

Ke 20 orang yang lolos itu berasal dari latar belakang beragam. Mereka adalah anggota Polri (Antam Novambar, Bambang Sri Herwanto, Firli Bahuri, Sri Handayani), komisioner dan pegawai KPK (Alexander Marwata, Sujanarko), advokat (Lili Pintauli Siregar), jaksa dan pensiunan jaksa (Johanis Tanak, Sugeng Purnomo, Supardi, Jasman Panjaitan), serta hakim (Nawawi Pomolango).

Kemudian ada karyawan BUMN (Cahyo RE Wibowo), penasihat menteri (Jimmy Muhamad Rifai Gani), auditor (I Nyoman Wara), Pegawai Negeri Sipil (Roby Arya, Sigit Danang Joyo), dan dosen (Luthfi Jayadi Kurniawan, Neneng Euis Fatimah, Nurul Ghufron). (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top