Kasus Suap Jual Beli Jabatan Rommy Gunakan Pola Tradisional

publicanews - berita politik & hukumAcara Sarasehan Pustaka KPK 'Melawan Korupsi' yang menghadirkan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dan sejumlah pakar di Gedung Merah Putih, Jakarta Selatan, Senin (18/3) siang. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Pengamat kebijakan publik Vishnu Juwono menilai kasus dugaan suap yang menjerat Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy masih menggunakan modus lama.

Dalam sejarah korupsi, ujar Vishnu, modus yang digunakan Rommy dan tersangka pejabat Kementerian Agama masih sama seperti dulu, tergolong tradisional.

"Analisis awal saya sebagai pengamat kebijakan publik, kalau kita lihat dari praktiknya ini praktik yang sangat tradisional," kata Vishnu dalam sarasehan Pustaka KPK 'Melawan Korupsi' di Gedung Merah Putih, Jakarta, Senin (18/3).

Alasan masih disebut pola tradisional karena adanya keterlibatan tiga unsur. Pertama penyalahgunaan wewenang, kemudian ada suap pejabat negara, dan ada unsur kerugian negara.

"Jadi kalau bisa saya simpulkan dari kasus kemarin yang hangat itu bahwa memang di era reformasi ini peranan partai politik semakin besar. Hal itu ditandai dengan posisi strategis yang sudah pasti harus (ada) restu dari partai politik," Vishnu menjelaskan.

Dosen Administrasi Publik Universitas Indonesia itu menambahkan, praktik korupsi tetap semarak terutama yang melibatkan anggota DPR, DPRD, dan polanya sangat tradisional.

"Yaitu biasanya melibatkan korupsi perizinan, pelemahan fungsi pengawasan DPR dan DPRD, manipulasi pengadaan barang jasa, dan jual beli jabatan," katanya.

Rommy ditangkap tangan di Hotel Bumi Surabaya pada Jumat (15/3) pagi. Tim KPK semula mengamankan Amin Nuryadin, asisten Rommy, di pelataran parkir. Ia hendak menyerahkan uang Rp 50 juta yang ia terima dari Kakanwil Kemenag Jatim Haris Hasanuddin.

Penyidik KPK menangkap Amin yang membawa uang Haris tersebut. Tim juga mengamankan uang lainnya sejumlah Rp 70,2 juta. Kemudian, tim mengamankan Kakanwil Kemenag Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan supirnya di kamar hotel.

Rommy yang tahu ada petugas KPK mencoba menyelinap keluar Hotel Bumi dari pintu belakang. Tim KPK mengejarnya dan berhasil menangkap Rommy di pinggir jalan. Adapun Haris ditangkap setelah Rommy.

KPK menduga Rommy menerima suap dalam terplihnya Haris dan Muafaq mengisi jabatannya. Total uang yang diamankan dalam OTT di Surabaya itu sebesar Rp 156.758.000. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top