Peringati Kasus Teror Novel Baswedan, KPK Tanpa Lampu 700 Detik

publicanews - berita politik & hukumWadah Pegawai KPK bersama Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi gelar aksi diam 700 detik di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (12/3). (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi menggelar aksi diam selama 700 detik sambil menyalakan light stick. Hal ini merupakan simbol untuk memperingati 700 hari kasus teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior Novel Baswedan. Hingga kini kasus tersebut belum ada titik terang.

"700 hari kami berupaya meminta TGPF. Tapi hingga 700 hari belum ada titik terang. Hari ini kami sepakat melakukan aksi diam. Karena kami merasa suara kami tak didengar. Kami diam 700 detik," ujar Puput selaku koordinator aksi dari unsur pegawai KPK, di Gedung KPK Jakarta, Selasa (12/3) malam.

Sebelumnya Wadah Pegawai KPK bersama Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi telah meminta Presiden membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) indepen agar kasus ini segera terungkap.

Bersama dengan aksi tersebut, Koalisi empat tuntutan agar kasus Novel segera dituntaskan. Adapun empat tuntutan Koalisi yakni

1. Presiden Republik Indonesia agar segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta independen melalui Keppres yang terdiri dari para ahli, tokoh dan praktisi yang kompeten dan independen yang bertanggungjawab langung kepada Presiden. 

2. Komisi Pemberantasan Korupsi segera menindaklanjuti laporan Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi mengenai dugaan perintangan penyidikan (Obstruction of lustice) dalam perkara periyiraman air keras terhadap Novel dan teror lainnya dan teror terhadap pegawai KPK lainnya. 

3. Kepolisian menghormati pembentukan TGPF independen oleh Presiden RI dan Penyidikan dugaan perintangan penyidikan (obstruction of justice) oleh KPK RI serta bersedia bekerjasama secara penuh melakukan pengungkapan kasus. 

Sebelumnya diketahui Novel Baswedan diserang oleh dua orang pengendara motor pada 11 April 2017 seusai shalat subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Akibat siraman air keras tersebut, mata kiri Novel mengalami kerusakan parah.

Kasus ini ditangani oleh kepolisian sebagai tindak pidana umum. Polisi saat itu telah menyebarkan sketsa wajah terduga pelaku.

Pada Januari 2019 lalu, Polri bersama KPK membentuk tim gabungan. Namun, hingga saat ini hasil investigasi penyelidikan belum dapat menemukan pelaku. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top