Ini PR Tak Mudah Jokowi Jika Menang Pilpres 2019

publicanews - berita politik & hukumPasangan petahana Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. (Foto: setkab)
PUBLICANEWS, Jakarta - Jika terpilih kembali untuk periode kedua, petahana Joko Widodo akan menghadapi sejumlah pekerjaan rumah (PR). Pengamat politik Jerry Massie mengatakan, PR tersebut tidak mudah, antara lain, pelunasan utang luar negeri, perbaikan ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, hingga perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM).

"Jika capres petahana Joko Widodo memenangkan pemilu presiden 2019, tugasnya tetap tidak mudah, karena ada sejumlah PR yang harus dikerjakan dan diselesaikannya," kata pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) itu di Jakarta, Senin (11/3).

Ia menanggapi hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) yang dipublikasi di Jakarta, Minggu (10/3) kemarin. Dalam survei tersebut, Jokowi-Ma'ruf Amin diprediksi meraup elektabilitas 54,9 persen, sementara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya 32,1 persen.

Dengan angka elektabilitas tinggi dalam sisa 35 hari sebelum pencoblosan pada 17 April mendatang, pasangan 01 diperkirakan bakal memenangi Pilpres. Namun sejumlah PR sudah menghadang.

Menurut Jerry, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia juga masih rendah, yakni di peringkat 113 dari 188 negara pada 2017, kemudian menjadi posisi 108 dari 187 negara pada 2018.

Belum lagi soal pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, dan bandara. Menurut Jerry, pembangunan infrastruktur tersebut harus dibarengi dengan perbaikan kualitas SDM.

Presiden Joo Widodo juga mengalokasikan Dana Desa sebesar Rp 70 triliun pada 2019 ini. "Alokasi Dana Desa ini harus ada keterlibatan warga desa dalam pengawasannya sehingga lebih transparan," ia mengingatkan.

Jerry berharap alokasi Dana Desa yang besar ini diimbangi dengan penurunan angka kemiskinan di desa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka kemiskinan pada 2018 sebesar 9,66 persen.

"Dengan alokasi Dana Desa diharapkan angka kemiskinan dapat turun lagi hingga 5 persen," katanya. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top