Amien Rais Peringatkan Jokowi, Apa sih Maumu?

publicanews - berita politik & hukumAmien Rais saat menjenguk Ahmad Dhani di Rutan Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (31/1). (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Solo - Ketua Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212 Amien Rais ikut mengawal pemeriksaan Ketua PA 212 Slamet Ma'arif, di Mapolresta Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (7/2).

Tiba agak terlambat, Amien tetap diperbolehkan masuk untuk mendampingi Slamet. Namun, ia tidak masuk ke ruang pemeriksaan.

"Tadi yang di dalam lawyer-nya, kalau saya hanya mendampingi saja," ujar Amien. Ia menambahkan kehadirannya sebagai bentuk dukungan karena merupakan bagian dari PA 212.

Pemeriksaan Slamet ini menimbulkan tanda tanya besar bagi Amien. Ia bahkan mengaitkan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Amien mengatakan akan bersikap setelah diketahui hasil pemeriksaan.

"Saya nanti lihat dulu bagaimana hasilnya, tolong ini ditulis: 'Pak Jokowi, Anda ini bagaimana sih maunya?'" kata Amein yang mengenakan topi pet dan baju jins lengan panjang.

Slamet diperiksa dalam kasus dugaan pelanggaran kampanye pada acara tablig akbar di Solo, 13 Januari 2018 lalu. Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga itu datang sebagai salah satu pembicara. Ia diduga melakukan pelanggaran kampanye.

Kasus Slamet dibawa ke ranah penyidikan kepolisian setelah Bawaslu berkoordinasi dengan kepolisian dan kejaksaan dalam Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) menyimpulkan ada pelanggaran kampanye.

Pelapor kasus ini adalah Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma'ruf Solo.

Kedua kubu sebenarnya saling lapor soal pelanggaran kampanye ini. Bawaslu DKI Jakarta, misalnya, pernah menyatakan pemasangan videotron Jokowi di sejumlah titik di Jakatya melanggar. Hal yang sama disampaikan Bawaslu saat Jokowi menghadiri deklarasi dukungan alumni UI di kawasan Senayan.

Di Solo, Komisioner Bawaslu Sukoharjo Eko Budiyanto pernah menyemprit Ibunda Jokowi, Sudjiatmi Notomiharjo, ketika blusukan dengan Relawan Priyayi Solo Pro Jokowi (PSPJ) di Desa Duwet, Kecamatan Baki, 15 Januari 2015.

“Kegiatan ini juga ditemukan sejumlah lambang capres seperti kaos dan pamflet atau kalender, dan tidak membuat STTP (Surat Tanda Terima Pemberitahuan),” kata Eko Budiyanto. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top