Penyidik KPK Dianiaya, Pemprov Papua Tidak Nyaman Ada Jebakan OTT

publicanews - berita politik & hukumOrang yang diduga petugas KPK, sesaat sebelum terjadi penganiayaan oleh pihak Pemrov Papua di lobi Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Sabtu (2/2) malam. (Foto: Kawattimur)
PUBLICANEWS, Jakarta - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, terjadi cekcok antara penyidik KPK dengan pihak Pemprov Papua sebelum penganiayaan.

Menurut Argo, pihak Pemprov keberatan ada orang memotret Gubernur Lukas Enembe seusai rapat koordinasi di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

"Saat selesai rapat ada orang foto-foto tanpa izin," ujar Argo dalam keterangannya di Mapolda Metro Jaya, Senin (4/2) sore.

KPK telah melaporkan kasus ini ke Polda. Terlapor, Argo menambahkan, masih dalam penyelidikan. "Yang pasti, sempat ada cekcok sebelum penganiayaan," kata Argo tanpa menyebut pihak terlapor.

Apa sesungguhnya yang terjadi?

Cerita versi Ketua DPRD Papua Yunus Wonda, ada jebakan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Gubernur Lukas Enembe. Sabtu (2/2) malam lalu, Lukas melakukan rapat bersama Tim Badan Anggaran Eksekutif, Legislatif, dan Kemendagri.

Sekretaris Daerah (Sekda) Papua TEA Herry Dosianen, ujar Yunus Wonda, memergoki orang tak dikenal mengambil foto-foto Lukas. Herry yang curiga kemudian mendekati orang tersebut di depan lobi Hotel Borobudur.

"Pak Sekda menghampiri yang bersangkutan dan menanyakan maksud dan tujuannya. Awalnya orang ini mengelak, tapi setelah kami periksa isi tasnya, ternyata ada ID Card KPK,” kata Yunus, kemarin.

Saat digeledah, Herry mendapati petugas KPK, yang diketahui bernama Muhammad Gilang W, membuat laporan tentang Lukas pada ponselnya. Muhammad rupanya melaporkan semua kegiatan Gubernur Lukas melalui WhatsApp.

Isi percakapan menunjukkan seolah-olah ada transaksi dilakukan Lukas. Misalnya, masih versi Yunus Wonda, disebutkan Kabag Keuangan Pemprov Papua masih menggendong ransel.

Setelah insiden pemukulan tersebut, Muhammad bersama rekannya dibawa ke Mapolda Metro Jaya.

"Jadi ada satu orang lagi yang kami bawa ke Polda. Intinya kami ingin memastikan dia dan rekannya ini betul petugas KPK atau bukan," kata Yunus Wonda.

Ia memastikan tidak ada deal dengan pihak manapun dalam rapat anggaran tersebut. "Kami merasa tidak nyaman, seperti dicurigai. Kami pikir mereka mau melakukan operasi tangkap tangan," politisi Partai Demokrat tersebut menegaskan.

Dua pegawai yang dianiaya tersebut mengalami retak tulang hidung dan luka sobek di wajahnya. Keduanya kini dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top