Panas, Andi Arief Minta Jokowi Ganti Mata Novel Baswedan

publicanews - berita politik & hukumPenyidik KPK Novel Baswedan dan Aktivis HAM Suciwati menyampaikan paparan saat diskusi di Gedung KPK, Jakarta, 1 November 2018. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Cuitan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Andi Arief membuat panas dua kubu paslon capres-cawapres. Aktivis '98 ini merasa gerah karena masih banyak yang mempersoalkan kasus penculikan dan pembunuhan masa lalu.

"Kalau masih ada yang yang berkoar soal penculikan atau pebunuhan masa lalu, sebaiknya besok pagi lihat mata Novel Baswedan. Tanyakan pada sebelah matanya, Jokowi ngapain aja?"
kicaunya lewat akun @AndiArief_, Minggu (30/12).

Bahkan, Andi mengatakan percuma Jokowi punya mata tetapi tidak mampu menuntaskan kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior KPK tersebut.

"Kenapa mata Pak Jokowi? Karena percuma punya mata tapi tak mau melihat persoalan yg mudah ini untuk diselesaikan," ia menambahkan.

Cuitan Andy kemudian mendapat tanggapan. Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto menegaskan kasus terhadap Novel masih ditangani kepolisian. "Polri sampai saat ini masih bekerja untuk mengungkap perkara ini," ujarnya, Senin (31/12).

Arief menambahkan, kasus penyerangan 'hit & run' memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Juga terkait kecukupan alat bukti/barang bukti/petunjuk di TKP dan saksi-saksi yang menentukan tingkat kesulitan pengungkapan.

Menurutnya, kasus pidana ini tidak bisa sembarangan kemudian dimintakan pada orang lain bertanggung jawab. "Ini adalah doktrin hukum pidana, jadi tidak bisa orang yang tidak melakukan diminta bertanggung jawab atas perbuatan pidana yang tidak dilakukan," ujarnya.

Politikus Koalisi Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin tak kalah sengit mengomentari pernyataan politikus Partai Demokrat itu.

Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah membandingkan kasus Novel dengan Bank Century. "Karena Andi Arief minta Jokowi memberikan matanya kepada Novel Baswedan, maka bisa saja rakyat Indonesia meminta seluruh harta SBY disita untuk mengganti kerugian negara akibat Century Gate," katanya, siang ini.

Sekutu Hanura, PPP, mengaku heran dengan pernyataan Andi. Ia mengingatkan bahwa di Indonesia tidak berlaku hukum rimba tetapi berlaku hukum positif.

"Apa urgensinya menantang Jokowi menyerahkan matanya ke Novel Baswedan? Kalau di balik, kenapa tidak Andi Arief saja yang melakukannya? Misalnya atas nama solidaritas," ujar Awiek kepada wartawan di Komplek DPR, Senin.

Hal senada ditegaskan partai pengusung Jokowi, PDIP. Sekretaris Badan Pelatihan dan Pendidikan DPP PDIP, Eva Kusuma Sundari kembali mengungkit kasus Kudatuli terjadi pada 27 Juli 1996 di mana ada 5 orang meninggal, 149 luka-luka, dan 136 ditahan.

"Terus gimana mengganti ratusan korban Kudatuli yang mati dan hilang, yang Ketum PD (Susilo Bambang Yudhoyono) somehow harus bertanggung jawab juga kalau pakai logika dia," tanya balik Eva.

Sementara di kubu Andi, seperti disampaikan Direktur Pencapresan PKS Suhud Aliyudin, apa yang disampaikan merupakan sindiran kepada Presiden Joko Widodo. "Kami kira itu semacam sindiran keras ke Pak Jokowi dan pihak lain agar bersikap fair," ujarnya siang ini.

Ia menyebut penanganan kasus Novel harus diakui sangat terkesan lambat. Ia pun menenkankan agar pemerintah bisa menyelesaikan kasus HAM saat ini, sebelum berkomentar mengenai kasus penculikan dan pembunuhan masa lalu. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top