Jokowi Maafkan Ustad Bahar Bin Smith

publicanews - berita politik & hukumUstad Muhammad Bahar bin Ali bin Smith dalam acara Reuni 212 di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (3/12). (Foto: Oposisinet)
PUBLICANEWS, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memaafkan Ustad Muhammad Bahar bin Ali bin Smith. Istana menganggap Bahar masih sebagai dai muda.

“Bahar bin Smith dengan kelakuannya begitu, gayanya begitu, maki-maki, menghujat, mencederai, bagi Pak Jokowi tidak ada masalah. Umurnya juga baru berapa, anak-anak kan,” kata Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin, Senin (3/12).

Menurut Ngabalin, Presiden Jokowi sudah memaafkan Bahar. Jokowi tak mau mempersoalkan orang-orang yang telah menganiaya dan menzaliminya.

“Tapi kalau ada orang keberatan, mempidanakan dia sebagai ujaran kebencian, sah-sah saja,” ia menambahkan.

Cara Ustad Bahar mengkritik Jokowi, kata Ngabalin, tidak selaras dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, rencana penyidik Bareskrim memeriksa ustad berdarah Manado, Sulawesi Utara, itu belum bisa terlaksana Senin pagi ini. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, Bahar tidak datang.

Direktorat Tindak Pidana Umum (Tipidum) Badan Reserse Kriminal Polri akan melayangkan surat panggilan kedua. Dedi mengatakan, banyak alamat yang dimiliki Bahar. Ia menepis bila surat panggilan pertama belum dilayangkan seperti disampiakan Bahar yang mengkllaim belum menerima surat panggilan.

Bahar dilaporkan oleh Jokowi Mania dan pengacara PSI dan Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid. Materi yang dilaporkan adalah ceramah Bahar yang berisi hinaan kepada Jokowi. Salah satunya menyebut Jokowi banci.

Kemarin, di hadapan peserta Reuni 212, Bahar menegaskan ketidaksudiannya meminta maaf. Ia menyebut lebih baik membusuk di penjara ketimbang meminta maaf atas pernyataannya. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. de'fara @shahiaFM03 Desember 2018 | 17:18:33

    Tidak layak disebut ustad apalagi habib, sangat jauh dari sebutannya dg perilakunya.

    Sebaiknya memang harus diproses hukum agar tdk merusak suatu kaum. Karena itu jelas bukan suri tauladan.

Back to Top