#Myanmar

Tidak Ada yang Suka Berhadapan dengan Tentara, Kami pun Tidak

publicanews - berita politik & hukumPasukan junta militer Myanmar menangkap seorang demonstran di Mandalay. (Foto: AFP)
PUBLICANEWS, Yangon - Tidak ada warga sipil yang mau dan suka berhadapan dengan pasukan junta militer Myanmar yang dikenal sadis. Tidak juga mereka yang bergabung dalam massa penentang kudeta militer.

Namun situasi yang membuat segala sesuatu berubah. Itulah yang dialami empat bersaudara dari Yangon yang melarikan diri ke perbatasan dengan Thailand.

Lin (21), Moe (18), dan si bungsu Za (15) --plus saudara sepupunya-- melarikan diri dari rumahnya di pinggiran Yangon lantaraan dicari-cari pasukan junta. Semua nama tersebut merupakan samaran, demi keamanan mereka.

Kepada The Guardian, Lin menceritakan bagaimana semula ia dan tiga saudara laki-lakinya hanya menonton massa aksi anti-kudeta militer. Pada suatu ketika mereka melihat sendiri tatmadaw, militer Myanmar, menembak mati demonstran di depan rumahnya.

"Korban tewas bertambah setiap hari di tengah meningkatnya kebrutalan militer. Saya merasa harus bergabung dengan gerakan perlawanan," kata Lin, seperti ditulis The Guardian, Kamis (29/4).

Tiga adik-adiknya kemudian mengikutinya pergi ke kota Yangon mengambil bagian dalam perlawanan untuk menghentikan kekerasan militer di jalan-jalan. "Lihat berapa banyak orang yang mereka bunuh dalam dua bulan terakhir. Jika kami tidak melakukan apa-apa akan lebih banyak orang tidak bersalah yang mati," ujar si bungsu Za.

Mula-mula keempatnya bergabung dengan massa damai, lalu menjadi bagian dari tim pengamanan swakarsa untuk melindungi warga dari penculikan militer pada malam hari. Mereka dibekali tongkat dan pedang. Toh penculikan terhadap aktivis tetap terjadi.

Dua Memo 'Habisi Pengunjuk Rasa' Bocor Saat Otak Kudeta Myanmar ke Jakarta

Kemudian PAM Swakarsa ini mendiskusikan untuk membalas. "Orang-orang mulai mengatakan kami harus melawan. Tapi kami tidak tahu caranya, kami juga takut," Lin bercerita.

Muncullah ide melakukan serangan diam-diam ke fasilitas militer atau polisi, dengan ketapel atau bom molotov. Mereka sadar itu tidak sepadan dengan pasukan junta yang dipersenjatai senapan otomatis berpeluru tajam.

Pada sebuah malam akhir Maret, Lin dan adik-adiknya nekat bergabung dengan kelompok yang menyerang sebuah kantor polisi. Nahas, satu orang dari kelompok tersebut tewas ditembak kepalanya. Lin bersaudara lari kocar-kacir.

"Kami sebenarnya ragu untuk menyerang. Hanya ada dua bom molotov dan lebih banyak ketapel," kata Lin. "Tidak ada yang punya nyali melempar molotov ke dalam kantor polisi, saya nekat melempar satu molotov sekenanya," ia menambahkan.

Esoknya, Lin bersaudara menjadi target perburuan polisi dan tentara. Keempatnya melarikan diri ke perbatasan pada malam itu juga. Mereka menyeberangi Sungai Thaunggin, lalu tiga penyelundup membantunya ke sebuah hutan yang aman di Thailand dengan membayar 6 ribu baht, sekitar Rp 2,7 juta.

Lin bersaudara betekad masih akan kembali ke Yangon ketika kondisi memungkinkan. "Saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh dalam situasi yang dialami oleh generasi saya dan generasi yang lebih tua," kata si nomor dua Moe, terdengar heroik.

"Tidak ada yang suka berhadapan dengan tentara yang brutal, kami pun tidak," Lin menimpali, dari tempat persembunyian mereka. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top