#Myanmar

Banyak Tentara Membelot, Junta Sandera Keluarga Mereka di Barak

publicanews - berita politik & hukumTentara Myanmar mengawasi demo anti-kudeta militer di Yangon. (Foto: Reuters)
PUBLICANEWS, Yangon - Banyak tentara Myanmar ingin membelot jika saja keluarganya tidak dikontrol ketat oleh junta. Mereka merasa apa yang dilakukan para jenderal otak kudeta militer sebagai brutal.

Kapten Lin Htet Aung semula adalah perwira di Light Infantry Battalion 528, di Kota Mong Ping, Negara Bagian Shan Timur. Sejak sepekan ini ia membelot dan bergabung dengan Gerakan Pembangkangan Sipil (CDM).

Kepada Myanmar Now Lin Htet Aung mengaku muak dengan perintah para jenderal untuk membunuh warga sipil yang menentang kudeta militer. "Banyak tentara tidak nyaman dengan kejahatan yang diperintahkan untuk mereka lakukan," katanya, seperti ditulis Myanmar Now, Selasa (13/4) malam.

Kapten Lin Htet Aung adalah satu dari empat perwira Tatmadaw, militer Myanmar, yang bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil dalam sebulan terakhir. Ada seorang kapten lagi yang turut membelot, yakni dari Divisi Infanteri 77, yang pernah secara brutal menumpas aksi massa anti-kudeta di Yangon.

Menurut Htet Aung, sebeltulnya ada banyak tentara ingin bergabung dengan CDM. Tapi tak semuanya punya keberanian karena khawatir keselamatan keluarganya. Junta militer telah menjadikan keluarga prajurit sebagai 'sandera' untuk memastikan suami mereka tetap taat perintah dan tidak desersi.

"Itulah situasinya sekarang. Mereka yang tinggal di kompleks militer pada dasarnya telah 'diculik'. Junta menggunakan anggota keluarga tentara untuk mengontrol para suami sehingga mereka tidak dapat bertindak dengan bebas. Jika ada tentara ingin lari, dia harus membawa serta keluarganya," ujar Htet Aung.

Htet Aung memperkirakan 75 persen tentara yang membelot memilih bersembunyi di wilayah yang dikuasai oleh organisasi etnis bersenjata yang memberi perlindungan kepada keluarganya.

Para Desertir Myanmar Kini Khawatir Dihukum Mati

Bahkan sebelum kudeta 1 Februari lalu, rezim telah membatasi pergerakan prajurit yang tinggal di barak. Seorang istri perwira dari Mandalay bercerita, situasinya menjadi lebih buruk setelah kudeta. Junta menghapus semua akun Facebook milik keluarga tentara. Dua nomor ponsel wanita tersebut disita agar tidak bisa mengakses situasi sebenarnya.

Junta juga menempatkan mata-mata diantara personel militer. Wakil pimpinan junta militer Jenderal Senior Soe Win memperingatkan tentara dan anggota keluarga untuk tidak percaya media sosial. "Hati-hati dengan propaganda di media sosial, dan terus bangun persatuan Tatmadaw," katanya.

Ironisnya, para jenderal kurang peduli terhadap pasukan yang diterjunkan menghadapi massa dan kelompok etnis bersenjata. Mereka seperti terputus komando dan dibiarkan mengambil keputusan sendiri.

Seorang sersan angkatan udara di Hmawbi, Yangon, mengatakan ketidakpedulian para jenderal kepada prajurit sama seperti ketidakpedulian mereka terhadap penderitaan rakyat. Itulah sebabnya ia membelot.

"Tatmadaw hanyalah sebuah nama. Jika saya harus memilih antara Tatmadaw dan negara, saya memilih negara saya," ujar sang sersan yang desersi pekan lalu. Ia sekarang berlindung di daerah yang dikuasai oleh tentara etnis bersama dua sersan lainnya.

Tidak ada data akurat berapa personel militer dan polisi yang membelot. Myanmar Now memperkirakan seratus orang lebih. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top