Menyedihkan, 4 Persen Mahasiswi Inggris Jajakan Seks Akibat Lockdown

publicanews - berita politik & hukumIndi (20), mahasiswi jurusan sejarah yang terpaksa menjajakan diri lewat OnlyFans. (Foto: OnlyFans)
PUBLICANEWS, London - Menyedihkan, sebanyak 4 persen dari 3.200 mahasiswi Inggris, atau 128 orang, menjajakan seks untuk membiayai kuliah mereka pada 2020. Mereka mejeng lewat situs OnlyFans karena tak bisa lagi kerja paruh waktu di toko, restoran, atau bar akibat lockdown.

The English Collective of Prostitutes (ECP) dalam rilisnya menyatakan, permintaan pelajar dan mahasiswi untuk dibantu mencari pekerjaan meningkat 30 persen pada 2021. ECP sering dijuluki sebagai 'serikat pelacur'.

"Kami melihat peningkatan signifikan jumlah pelajar menjadi penjaja seks karena biaya sekolah yang meningkat," kata juru bicara ECP Laura Watson, seperti dikutip The Sun, Senin (12/4). "Beberapa diantara mereka harus bekerja untuk membayar kuliah 30 ribu Poundsterling (Rp 603 juta lebih)," ia menambahkan.

Menurutnya, tidak banyak pilihan setelah Inggris memberlakukan tiga kali lockdown sejak pandemi Covid-19 pada Maret 2020. Bekerja paruh waktu yang biasanya dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa tidak lagi tersedia karena toko, restoran, dan bar tutup atau bangkrut.

"Selama lockdown, terjadi gelombang massal wanita yang memilih jadi anggota OnlyFans. Itulah cara pelajar bertahan hidup," ujar Watson.

Sophie McBurnie (22), mahasiswi Jurusan Kimia Universitas Lancaster, mengaku putus asa untuk membayar uang kuliah pada tahun ketiga. Ia masih menunggak 5 ribu Pound, sekitar Rp 100 juta. Orang tuanya tidak punya uang, dan umumnya mahasiswa membayar sendiri kuliahnya.

Sepanjang musim panas tahun lalu ia bekerja paruh waktu, tapi penghasilannya tak mencukupi. "Benar-benar tahun yang buruk," Sophie bercerita kepada The Mirror.

Ia kemudian menjadi anggota OnlyFans, platform berbayar dimana pengguna bisa menjual konten foto atau video yang mengandung materi dewasa. Mereka mengistilahkannya dengan 'Not Safe for Work' alias tak laik untuk jadi ladang pekerjaan.

Sophie, yang menggunakan nama akun Piri, kini punya 1.300 pelanggan yang masing-masing membayar 8,73 Pound atau hampir Rp 175 ribu sebulan. Selama 10 bulan ini ia mendapatkan penghasilan 43.659 Pound atau lebih dari Rp 877,5 juta dari platform.

"Orang tua saya sangat tidak senang mengetahuinya, mereka ingin saya berhenti. Tapi saya memberi tahu mereka berapa banyak uang yang bisa saya hasilkan," katanya.

Indi (20), mahasiswi Sejarah dari West Yorkshire, mengatakan hanya 'mereka yang tak berotak' yang mau terus-terusan jadi gadis OnlyFans. Ia memilih hanya 'melayani' satu pelanggan 'sugar daddy'. Dari seorang 'om senang' itu ia bisa mendapatkan 400 Pound sebulan.

"Tapi aku rasa aku tidak akan menjadi 'cewek pendamping' (lady escort) selamanya. Ini hanyalah pekerjaan paruh waktu, tak beda dengan menjadi penjaga toko," ujar pemilik akun Pea itu. Semakin 'seru' foto atau aksinya, makin banyak pelanggan.

Inggris masuk kelompok negara dengan biaya pendidikan yang tinggi. Menurut Times Higher Education, untuk meraih gelar sarjana, perlu biaya 9.250 Pound setahun. Sedangkan level SMA, rata-rata 547 Pound --di ibukota London bisa mencapai 640 Pound.

Oleh karena itu Serikat Pekerja Inggris menyerukan reformasi untuk mengatasi mencekiknya biaya pendidikan. Kenaikan biaya pendidikan membuat pelajar putus sekolah atau pergi ke jalur tertentu yang seharusnya tidak mereka lakukan, seperti menjadi 'gula-gula' di OlyFans.

"Mengerikan jika pelajar merasa tidak punya pilihan selain beralih ke pekerja seks. Jangan kaget jika jalan ilegal ini ditiru oleh pelajar sesudah mereka," ujar Sekjen Serikat Pekerja Inggris Stephen Morris. (ian)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo16 April 2021 | 18:53:37

    Mosok segitunya sih? Lebay ah. Beres beres rumah kek. Wkwkwk. 🤣

Back to Top