Prancis

Perempuan Jurnalis Muslim Diancam Dibunuh Karena Kritik Islamofobia

publicanews - berita politik & hukumNadiya Lazzouni, jurnalis yang mendapat ancaman pembunuhan setelah mengkritik kebijakan Islamofobia pemerintah Prancis. (Foto: Instagram/@nadiyalazzouni)
PUBLICANEWS, Paris - Perempuan jurnalis muslim Nadiya Lazzouni meminta perlindungan Presiden Prancis Emmanuel Macron dari ancaman pembunuhan. Nadiya mengatakan ia mendapat surat kaleng hendak dibunuh setelah mendebat politikus pada acara di TV BFM dan menentang larangan berjilbab.

Melalui kanal BFM, Nadiya meminta Macron, Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin, dan Menteri Kewarganegaraan Marlene Schiappa untuk mengambil tindakan melawan kebencian terhadapnya dan 'semua muslim di Prancis'.

"Media telah terlena dalam suasana kebencian dan stigma terhadap komunitas muslim," katanya, Minggu (11/4). "Ketika saya, seorang muslim, menerima ancaman pembunuhan, Anda diam saja," ia menambahkan.

Nadiya mengunggah surat ancaman tersebut ke akun Instagram @nasiyalazzouni, tiga hari lalu. Surat tulisan tangan itu berisi penghinaan dan ancaman, pengirim menyebut Nadiya 'pelacur Islamis' dan menulis 'akan ada peluru di lehermu'.

Menteri Schiappa menegaskan tidak ada perdebatan yang membenarkan ancaman seksis dan rasis. Ia menyarankan Nadiya membuat laporan kepada pihak yang berwenang. Schiappa adalah seorang feminis yang blakblakan, ia pernah mengalami pelecehan lewat akun Twitter-nya.

Perancis Semena-mena Menutup Masjid dan Deportasi Ratusan Muslim

Nadiya pertama kali populer tiga tahun lalu setelah mendebat politikus konservatif di acara TV Prancis. Saat itu ia menentang rencana pemerintah melarang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah mengenakan jilbab.

Wanita berdarah Aljazair itu mengkritik kebijakan Islamofobia pemerintah Prancis, terlebih ketika Presiden Macron mengatakan bahwa 'muslim Prancis adalah musuh terselubung dari dalam negeri'.

Menyusul serangkaian serangan terhadap guru yang mengajarkan karikatur Nabi Muhammad dan majalah Charlie Hebdo tahun lalu, pemerintah memperkenalkan undang-undang yang memungkinkan tindakan keras terhadap kelompok dan individu yang dicurigai sebagai ekstremis. RUU tersebut, dan retorika Macron tentang muslim, menuai kritik baik di dalam maupun luar negeri.

Perdebatan seputar RUU itu muncul kembali di Prancis pekan ini, setelah anggota parlemen menambahkan amandemen yang akan melarang anak di bawah umur mengenakan jilbab di tempat umum. (oca)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Iis_osya @iis_osya12 April 2021 | 16:58:07

    Semoga mba Nadia slalu dlm lindungan NYA.

    Dan pihak beewajib Prancis untuk melmyusut oknum yg mengancamnya.

    Karena apa yg diperjuangkan adalah hak dasar bagi warga yg menganut ajaran Islam

  2. Cewek Kepo @ceweKepo12 April 2021 | 16:57:17

    Ancaman berbau SARA ini harus dilawan. 💪

Back to Top