Myanmar

Penyabung Nyawa Itu Akhirnya Roboh Diterjang Peluru Tentara

publicanews - berita politik & hukumRelawan tim medis darurat Myanmar Thinzar Hein. (Foto: Myanmar Now)
PUBLICANEWS, Sagaing - Thinzar Hein dan Aye Aye sedang rehat di bawah pohon seusai merawat pengunjuk rasa anti-kudeta yang terluka. Suara tembakan berseliweran di sekitar dua relawan petugas medis darurat di Monywa, Sagaing, Myanmar, siang itu.

Meskipun belum sarapan, Thinzar menolak disodori makanan temannya. Ia memilih air dingin untuk menghilangkan dahaga.

Namun belum sempat meneguk air mineral, tentara tiba-tiba mendekat dan langsung menembak kepalanya. Peluru lain menembus bahu Aye Aye yang duduk di sampingnya.

"Tubuhnya yang sudah tak bernyawa itu merosot ke depan dan jatuh ke jalan. Tidak ada cara untuk menyelamatkannya di tengah hujan peluru yang menderas," kata Aye Aye kepada Myanmar Now, Rabu (1/4). Aye Aye bukan nama sebenarnya, laman independen itu menyembunyikan identitasnya demi keamanan.

Tentara Myanmar Tembak Bocah Perempuan Muslim di Pangkuan Ayahnya

Lagi, tragedi kemanusiaan mengharu-biru Myanmar pasca kudeta militer terhadap pemerintahan sipil yang sah di bawah Aung San Suu Kyi sejak 1 Februari lalu. Thinzar (21) adalah mahasiswi keperawatan tahun kedua. Ia meninggalkan rumah ketika mengetahui banyak warga yang tertembak tentara tak terurus.

Ia bertemu Aye Aye (22) dalam rapat umum anti-kudeta pada Februari lalu. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam bersama, merawat demonstran yang terluka, atau mengumpulkan mayat. Mereka sadar menyabung nyawa setiap kali memasuki 'zona pembunuhan', di mana tentara menembak apa pun yang bergerak.

Thinzar Hein menulis di media sosialnya, bahwa dia tidak ingin siapa pun mengambil risiko yang sama sepertinya. "Jangan repot-repot dengan tubuhku jika aku terluka. Bantu saja yang lain," ia menulis di laman Facebook Thinzar Hein (Zar Zar) pada 14 Maret.

Kematian Thinzar, kemarin, membuat marah warga Sagaing. The Irrawaddy melaporkan hari ini penduduk mempersenjatai diri dengan senapan berburu hasil rakitan untuk membela diri. Pasalnya, tentara mulai main tembak siapa saja yang keluar rumah, bahkan sekadar untuk melihat apa yang terjadi.

Bidadari Myanmar dan Anak-anak Muda Martir 'Revolusi'

Hari ini, warga Tarhan, kota lain di Sagaing, menangkap empat polisi berpakaian preman yang menenteng tongkat besi. Mereka mencurigai keempatnya sedang memata-matai aktivis pembangkangan sipil.

Banyak 'warga biasa' terpanggil jadi 'aktivis' menyusul tidak menentunya nasib Myanmar di bawah junta militer. Thinzar Hein, misalnya, semula adalah anak sekolah baik-baik.

Ayahnya anggota Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan bentukan militer yang kalah telak dari Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi pada Pemilu November 2020. Namun setelah kematian Thinzar, sang ayah menyatakan bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil.

"Anda harusnya malu ketika di masa depan Anda tidak dapat mengatakan menjadi bagian dari revolusi ini," ujarnya. (oca)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. shes one the @siswandi02 April 2021 | 17:23:45

    Semoga tidak sia-sia apa yg telah dilakukan oleh para demostran yg sdh berjuang demi masa depan myanmar.

    Memang hrs ada yg jadi korban, itu lah pengorbanan namanya.

    Dan dr itu semua, akan menjadikan cita-cita yg luruh bagi negerinya.

  2. Cewek Kepo @ceweKepo02 April 2021 | 16:43:11

    Korban berjatuhàn. Harus dibantu nih rakyat Myanmar. Kasian ditembakin mulu. Pada kejem ya.

Back to Top