Hari Aib Angkatan Bersenjata Myanmar, 80 Orang Tewas

publicanews - berita politik & hukumSeorang pengunjuk rasa diborgol dan dihajar petugas keamanan di Kota Yangon, Sabtu (27/3). (Foto: Reuters)
PUBLICANEWS, Naypiydaw - Peringatan ke-76 Hari Angkatan Bersenjata Myanmar pada Sabtu (27/3) ini diolok-olok sebagai 'hari paling aib bagi militer'. Betapa tidak, pada hari ini 80 orang tewas di ujung bedil Tatmadaw atau tentara.

"Hari ini adalah hari aib bagi angkatan bersenjata," kata Dr. Sasa, juru bicara CRPH, kelompok anti-kudeta yang dibentuk oleh anggota parlemen yang digulingkan, seperti dikutip laman media independen The Irrawaddy, Sabtu (27/3) sore.

"Para jenderal merayakan Hari Angkatan Bersenjata setelah mereka baru saja membunuh lebih dari 300 warga sipil tak berdosa," Sasa menambahkan.

Soal angka pengunjuk rasa yang tewas hari ini berbeda-beda setiap media. Myanmar Now menulis 64 orang, Reuters menyebut 80 orang, sedangkan Associated Press memperkirakan 76 tewas di seluruh negeri hingga sore hari. Hal itu terjadi karena sulitnya mengakses informasi di tengah pembatasan internet oleh junta militer.

Yang jelas, angka 50 itu sendiri merupakan korban terbanyak dalam satu hari sejak militer mengambil alih pemerintahan sipil yang sah di bawah kepemimpinan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari lalu. "Hari paling mematikan sejak kudeta," laman The Irrawaddy menulis.

Pimpinan junta militer Jenderal Min Aung Hlaing sehari sebelumnya telah mengancam lewat stasiun televisi MRTV milik junta. "Anda harus belajar dari tragedi kematian sebelumnya bahwa Anda terancam ditembak di kepala dan punggung," ujarnya, dingin. Ia berdalih militer menegakkan 'demokrasi'.

Tentara Myanmar Tembak Bocah Perempuan Muslim di Pangkuan Ayahnya

Gertakan sang jenderal disambut demo setidaknya di 35 kota hari ini. Rakyat Burma, nama lama Myanmar, seolah ingin mempermalukan rezim di tengah parade militer di ibukota Naypiydaw yang hanya dihadiri Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexander Fomin sebagai satu-satunya perwakilan negara asing.

Nahas, militer benar-benar secara brutal melaksanakan ancamannya. Korban paling banyak berasal dari Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar. Tercatat 13 warga tak berdosa jadi korban, termasuk tiga kanak-kanak.

Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dan 13 tahun dihajar oleh penembak runduk atau sniper saat melihat ke luar jendela rumahnya.

Seorang bayi satu tahun terluka kena peluru karet di matanya di daerah Thamine, Kotapraja Mayangone, Yangon. Saat itu sang bocah sedang bermain di luar rumah.

Hari Angkatan Bersenjata setiap 27 Maret menandai peringatan dimulainya perlawanan militer Myanmar terhadap pendudukan Jepang pada 1945.

"Sayangnya, militer yang sama yang tengah memperingati kemenangannya telah membunuh setidaknya 20 anak-anak tak berdosa dan 320 orang dewasa lainnya sejak kudeta," kata Sasa. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top