Tentara Myanmar Tembak Bocah Perempuan Muslim di Pangkuan Ayahnya

publicanews - berita politik & hukumU Maung Kho Hashim Bai dan keluarga berdoa di depan jenazah anaknya Khin Myo Chit (7) yang tewas tertembus peluru militer Myanmar, Rabu (24/3). (Foto: Myanmar Muslim Media)
PUBLICANEWS, Mandalay - Militer Myanmar menembak bocah perempuan muslim Khin Myo Chit (7) saat ia berlari ketakutan menuju ke pangkuan ayahnya U Maung Ko Hashim Bai. Tak cukup menembak, tentara juga memukul dengan popor senapan.

Setelah militer pergi, keluarga membawa Myo Chit ke rumah sakit. Dokter mengatakan bocah itu tak tertolong. Ia kehabisan darah.

"Kami benar-benar terluka, marah. Kami berduka untuk adik kami dan mengkhawatirkan anak-anak Myanmar lainnya," kata sang kakak, May Thu Sumaya (25), kepada Myanmar Now, Rabu (24/3).

LSM Save the Children mencatat setidaknya 20 kanak-kanak tewas akibat kekerasan militer sejak mereka mengkudeta pemerintahan sipil yang sah di bawah pimpinan Aung San Suu Kyi. "Kami ngeri kanak-kanak terus menjadi sasaran serangan saat mengejar aktivis prodemokrasi," begitu bunyi pernyataan mereka.

Rumah keluarga Hashim Bai di Kotapraja Chan Mya Thazi, Mandalay, digedor militer pada Selasa (23/3) pukul 11 malam. Saat itu mereka mencari aktivis yang bersembunyi. Hashim dan keluarga gementar.

Lalu pintu didobrak. Anak lelaki Hashim Bai yang berusia 19 tahun dihantam dengan popor senapan hingga berdarah-darah. Tentara kemudian menyeretnya pergi.

"Kami tidak tahu apakah dia masih hidup," ujar May Thu. "Apa salah kami? Kami tidak punya tempat lain untuk lari dan mereka mencari kami," ia menambahkan.

Bidadari Myanmar dan Anak-anak Muda Martir 'Revolusi'

Saat itu tentara sebenarnya menginterogasi soal anggota keluarga yang kabur. Hashim Bai menjawab enam orang yang ada di ruangan adalah seluruh anggota keluarganya. Tentara menganggap Hashim berbohong.

Ketika seorang tentara hendak menembak Hashim, Myo Chit yang ketakutan berlari ke pangkuan ayahnya. Saat itulah bedil menyalak dan mengenai perut bocah perempuan tersebut.

"Mereka menyerbu rumah kami dengan kurang ajar," May Thu menuturkan. "Lalu menuduh ayah kami berdusta dan menembaknya, tapi peluru mengenai Myo Chit."

Hashim masih ingat kata-kata terakhir gadis ciliknya setelah tentara pergi. "Aku tidak kuat ayah, ini terlalu sakit," kata Hashim dalam wawancara dengan outlet Myanmar Muslim Media, Rabu (24/3) sore.

Juru bicara junta militer Zaw Min Tun menyatakan turut sedih atas hilangnya nyawa anak-anak. Versi militer sejak 1 Februari lalu, awal kudeta, total ada 164 pengunjuk rasa tewas.

"Mereka juga rakyat kami," ujarnya.

Soal jumlah korban meninggal ini berbeda dengan versi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP). Menurut mereka, setidaknya 275 orang tewas di tangan junta, termasuk bocah Myo Chit. (oca)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top