Amerika Serikat

Pembunuh Colorado, Pegulat Paranoid yang Dihantui Rasisme

publicanews - berita politik & hukumAhmad Ali Aliwi Alissa (21) diringkus polisi seusai memberondong toko grosir di Boulder, Colorado, AS, Senin (22/3) sore. (Foto: Boulder Police Departement)
PUBLICANEWS, Colorado - Keluarga Ahmad Ali Aliwi Alissa (21), penembak toko grosir King Sooper, Colorado, Amerika Serikat, tak menyangka Ahmad benar-benar menggunakan pistolnya. Dua hari sebelum ia memberondong 10 orang, kakaknya Ali Aliwi Alissa (34), mendapati Ahmad tengah bermain-main dengan pistol.

Ali Alissa menyangka itu pistol sekadar buat bergaya. Ketika keluarga menyembunyikan pistol --yang belakangan diketahui jenis semi-otomatis Ruger AR-556-- tersebut, Ahmad berteriak kesetanan.

Keluarga terkejut ketika dua hari kemudian, Senin (22/3) sore, polisi Boulder County mendatangi rumah mereka. "Polisi menggeledah setiap sudut, bahkan setiap lipatan pakaian Ahmad di lemari," kata Ali Alissa, seperti dikutip media lokal East Bay Times, Selasa (23/3) siang atau Rabu (24/3) pagi di Indonesia.

Pistol semi-otomatis itu bukan barang mainan, hari itu Ahmad memberondong sporadis orang-orang yang tengah belanja di toko sembako tersebut. Seorang polisi yang datang paling awal di lokasi kejadian turut tertembak.

Ahmad berasal dari keluarga imigran Suriah. Mereka datang ke Negeri Paman Sam pada 2002 dan tinggal di West 65th Place, Arvada, pinggiran Denver yang tenang. Rumah besar itu dihuni keluarga besar Ali Aliwi Alissa dari berbagai generasi.

Ayahnya, juga disebut dengan nama Aliwi Alissa, punya restoran di Denver, Ibukota Negara Bagian Colorado. Mereka dikenal dermawan, sepekan sekali memberi makan gratis kepada gelandangan --semacam 'Jumat Berkah' di Indonesia.

Tetangga mengenal keluarga besar itu bukan penganut radikalisme. Mereka juga tidak tertarik bicara politik.

Ahmad menekuni gulat dan angkat besi sejak SMP hingga SMA. "Agak menakutkan berdekatan dengannya," kata Dayton Marvel, rekan satu tim gulat semasa di Arvada West High School, Denver. "Ia seorang sensitif dan sangat temperamental."

Dalam sebuah pertandingan untuk mendapatkan beasiswa masuk perguruan tinggi, tahun 2017, Ahmad tidak terima dinyatakan kalah. Ia berteriak akan membunuh semua orang karena mengeliminasinya.

"Kami semua ketakutan. Dia menuduh sengaja dikalahkan karena ia muslim, ini rasis," ujar Marvel.

Ketika keluar ruang gym, Ahmad yang saat itu 18 tahun menghajar seorang temannya karena meledek kekalahannya. Itulah kali pertama Ahmad berurusan dengan kepolisian Colorado.

Ahmad sering paranoid menganggap mereka yang tak suka padanya karena ia dari keluarga imigran Suriah dan muslim. Ia pernah mengancam melaporkan teman-temannya ke polisi atas tuduhan rasialis jika terus mengolok-olok.

"Jika sedang marah, ia melampaui batas. Padahal ia sebenarnya cukup keren," Angel Hernandez, teman kelas gulatnya yang keturunan Meksiko, bercerita.

Mantan teman di kelas angkat besi, Keaton Hyatt, sebaliknya menuturkan tidak pernah melihat Ahmad terlibat kekerasan. Ia menyukai kecerdasannya.

"Dia sangat keren dan sangat lucu," kata Hyatt. "Kami tidak pernah mengolok-oloknya soal ras karena kami merasa dia orang Amerika," ia menambahkan.

Tidak ada yang tahu alasan Ahmad membeli pistol semi-otomatis Ruger AR-556 enam hari sebelum ia menyerang toko grosir itu. Di halaman Facebook dan Instagram-nya, yang kini ditutup, ia menulis kecurigaannya bahwa ponselnya diretas.

Lagi-lagi ia menyalahkan sikap rasisme Amerika. "Saya yakin ini bagian dari rasisme," katanya.

Kakak iparnya menyebut Ahmad sering mengalami delusi, tidak bisa membedakan khayalan dengan fakta. Ia seorang penyendiri dan menjadi paranoid sejak 2014. Pernah ia menutup kamera di komputernya dengan lakban agar tidak bisa dimata-matai siapapun.

"Dia selalu curiga ada orang di belakangnya, ada yang mengejarnya," kata sang kakak, Ali Alissa.

Ahmad, kata Ali Alissa, sama sekali bukan pemuda relijius. Ia menampik jika penembakan di toko grosir King Sooper bermotifkan pembalasan ras.

"Aku masih tidak percaya dia membunuh. Aku benar-benar sedih atas nyawa yang hilang sia-sia, dan aku bersimpati pada semua orang yang kehilangan keluarganya," ujar Ali. "Kami juga kehilangan seorang saudara bahkan jika dia adalah pembunuhnya," ia menegaskan. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top