Para Desertir Myanmar Kini Khawatir Dihukum Mati

publicanews - berita politik & hukumSalah satu rumah pengungsi yang menampung desertir Myanmar di Mizoram, India. (Foto: Aljazeera)
PUBLICANEWS, Mizoram - Marli (30) dan Vankung (29) baru sepekan menikah ketika militer Myanmar mengkudeta pemerintahan yang sah di bawah kepemimpinan Aung San Suu Kyi, 1 Februari lalu. Keduanya sama-sama polisi yang berdinas di Tedim, Negara Bagian Chin.

Perintah pertama yang ia terima pada hari kudeta adalah, 'tangkap dan tembak para pembangkang.' Yang dimaksud 'pembangkang' adalah para aktivis sipil yang memprotes kudeta.

"Jika perlu tembak di tempat," kata Marli, seperti ditulis Aljazeera, Kamis (18/3). Selama wawancara, ia menggenggam tangan suaminya Vankung.

Marli dan Vankung memilih menanggalkan seragam polisinya dan lari ke Mizoram, India timur laut, karena tidak ingin membunuh rakyat tak berdosa. Ia sampai di Mizoram yang berbatasan dengan Myanmar pada Minggu (14/3).

Di Mizoram pasangan muda itu bergabung bersama 25 rekannya yang juga memilih desersi --ada polisi, ada tentara. Para 'pembangkang' ini tinggal di rumah kayu yang kosong yang disediakan penduduk setempat, menggelar kain seadanya untuk alas tidur. Ransel mereka jadikan bantal.

"Kami mencintai rakyat kami. Junta militer memaksa kami untuk menyakiti rakyat sendiri. Itu sebabnya saya keluar dari dinas," ujar Suan, 'pembangkang' lain, yang mengaku tentara.

Junta militer dikabarkan makin brutal. Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) memperkirakan 180 lebih orang tewas sejak kudeta 1 Februari. Junta menerapkan darurat militer pasca pembakaran pabrik-pabrik milik pengusaha China pada Ahad (14/3) lalu.

Sejumlah polisi dan tentara yang 'masih punya nurani' kemudian memilih menanggalkan seragam dan bedil mereka. Menurut anggota Parlemen Mizoram, K Vanlalvena, pengungsi Myanmar yang melintasi perbatasan India meningkat setiap jam sejak Ahad lalu.

"Menurut laporan, lebih dari 400 orang telah memasuki Mizoram," katanya. Tidak semuanya tentara dan polisi, ada warga biasa. Umumnya dari Suku Chin yang masih berdekatan secara etnis dengan warga Mizoram, India.

Kunga (37), salah satu anggota militer atau Tatmadaw masuk kelompok pertama desertir di Mizoram. Ia bertugas mengawasi gerakan pembangkangan sipil (CDM) di Kota Tonzang, Negara Bagian Chin.

Tapi ia memilih lari dengan sepeda motornya, lalu berjalan kaki dua hari menembus hutan dan perbukitan untuk mencapai Mizoram pada 7 Maret lalu. "Saya tak mungkin memata-matai rakyat sendiri," katanya, sambil menunjukkan kartu identitas militer Myanmar dan foto-foto saat bertugas. "Kini saya pembangkang itu sendiri," ia menambahkan.

Suan, juga intel CDM, termasuk pelarian yang sial. Sehari setelah ia mencapai Mizoram, 9 Maret lalu, ayahnya di kampung ditangkap. Ia kini mengkhawatirkan istri dan anak-anaknya, tapi tidak berani menghubungi mereka karena teleponnya telah disadap.

Ia dan para desertir --yang nama-namanya disamarkan itu-- kini mulai cemas masa depannya, seberapa lama mereka bisa bertahan di Mizoram? Apalagi India tidak menandatangani Konvensi PBB tentang Pengungsi. Para desertir ini sewaktu-waktu bisa diusir kembali ke Myanmar.

"Jika pemerintah India menangkap dan mengirim saya kembali, hukuman mati menanti," ujar Suan, masygul. (oca)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. shes one the @siswandi18 Maret 2021 | 17:19:52

    Miris memang nasib pejuang hati nurani.

    Apalagi karena dorongan pribadi dan tidak ada yg memperhatikan, menambah keprihatinan.

    Semoga ada lembaga atau NGO seperti LSM di Indonesia bisa menolong mereka.

Back to Top