Junta Militer Makin Brutal, Sentimen Anti-China Menguat di Myanmar

publicanews - berita politik & hukumSeorang demonstran berlindung dari tembakan polisi untuk menolong rekannya yang tewas dalam aksi di Yangon, Myanmar, Minggu (15/3) sore. (Foto: AFP)
PUBLICANEWS, Yangon - Apa yang dikhawatirkan polisi Myanmar yang 'desersi' ke India akhirnya terjadi. Minggu (14/3) kemarin, junta militer akhirnya memilih cara 'membantai' demonstran antikudeta yang membakar sejumlah pabrik dan hotel di kawasan industri Hlaingthaya, pinggiran Yangon.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mencatat setidaknya 38 demonstran tewas di tempat. Kemungkinan korban akan bertambah karena ratusan orang lainnya mengalami luka tembak dan dirawat di berbagai fasilitas kesehatan.

"Mengerikan. Orang-orang ditembak di depan saya. Itu tidak akan pernah hilang dalam ingatan saya," seorang jurnalis foto bersaksi, laman France24.com merahasiakan namanya, Senin (15/3).

Minggu kemarin menjadi paling berdarah --melebihi hari-hari sebelumnya-- sejak militer mengkudeta pemerintahan sipil di bawah Aung San Suu Kyi pada 1 Februari lalu.

Bidadari Myanmar dan Anak-anak Muda Martir 'Revolusi'

Bagi Naing, polisi yang memilih lari ke Mizoram di India timur laut, menguatnya sentimen anti-China di Myanmar sudah ia duga. Pria yang 16 tahun berdinas di sebuah kota di bagian barat Myanmar itu menuturkan, persenjataan militer atau Tatmadaw banyak dipasok RRT. Tak heran jika muncul anggapan China 'merestui' kudeta.

Naing, bukan nama sebenarnya, memilih lari ke India bersama lusinan koleganya karena tidak bisa menerima perintah untuk menembak demonstran. "Saya diperintah menembak orang-orang yang tak bersalah. Saya tidak bisa," katanya. "Kami merasa militer telah salah menggulingkan pemerintahan terpilih," polisi 37 tahun itu menambahkan.

Menurutnya, meningkatnya kekerasan terhadap massa penentang kudeta karena militer makin gelisah. Mereka tak menyangka perlawanan rakyat makin besar dan gencar. "Militer gelisah. Mereka menjadi semakin brutal," ujarnya.

Junta militer makin tertekan setelah aksi pembakaran kawasan industri milik perusahaan China, kemarin. Apalagi Kedubes RRT kemudian memprotes dan menuntut perlindungan.

"China mendesak Myanmar untuk mengambil langkah efektif untuk menghentikan semua tindak kekerasan dan menjamin keselamatan properti perusahaan dan warga China di Myanmar," begitu bunyi pernyataan Kedubes.

Militer Mainkan Politik Pecah Belah Etnis Myanmar

Laman Facebook Kedubes China yang memuat pernyataan tersebut dibanjiri komentar negatif dalam bahasa Myanmar. Seolah meledek, lebih dari 29 ribu warganet membubuhkan emoji wajah tertawa. Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas pembakaran pabrik-pabrik milik China itu.

Dengan 'tragedi Minggu berdarah' kemarin, kini total pemrotes yang meninggal menjadi 126 orang. Menurut AAPP, lebih dari 2.150 aktivis ditahan.

Empat hari lalu, Naing yang ditemui beberapa jurnalis Barat di tempat persembunyian yang berjarak 16 kilometer dari Myanmar menyatakan ngeri karena korban rakyat sipil masih akan terus berjatuhan. Ia menegaskan junta militer tidak akan kompromi.

Di tengah-tengah percakapan, ia mengeluarkan ponsel untuk menunjukkan foto-foto keluarganya: seorang istri dan dua anak perempuan kembar berusia 5 tahun 6 bulan. "Saya khawatir tidak bisa bertemu mereka lagi," katanya, lirih.

Naing memang 'hanya' seorang polisi rendahan di kota kecil di Myanmar barat. Tapi bisa jadi ia mewakili sebagian besar rakyat Myanmar kini. "Pembunuh rakyat dan jahat akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap tetes darah yang tumpah," ujarnya. (ian)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. de'fara @shahiaFM16 Maret 2021 | 06:25:53

    Kalo yg punya nurani pasti tidak akan melakukan tindakan semena mena. Jelas perbuatan militer sudah tidak menggunakan akal sehat.

    Terkutuk.

  2. Cewek Kepo @ceweKepo16 Maret 2021 | 05:43:29

    Semakin gila nih militer. Nyawa jadi gak berharga. Demi kekuasaan.

Back to Top