Bidadari Myanmar dan Anak-anak Muda Martir 'Revolusi'

publicanews - berita politik & hukumMa Kyal Sin, yang akrab disapa Angel, ketika memimpin rekan-rekannya dalam aksi menentang kudeta militer Myanmar di Mandalay, Rabu (3/3). (Foto: FrontierMyanmar)
PUBLICANEWS, Mandalay - Matanya bulat-bening, ia masih sangat muda. Baru November 2020 lalu ia punya hak pilih dalam Pemilu Myanmar.

Gadis remaja yang oleh teman-temannya dipanggil Angel itu orang berani. Nama aslinya Ma Kyal Sin. Ia melindungi teman-teman remajanya ketika tentara dan polisi menembaki massa penentang kudeta militer di Mandalay, kota kedua terbesar di Myanmar. Nahas, sebuah peluru menembus kepalanya, Rabu (3/3) siang. Ia tewas.

Rabu lalu adalah hari paling berdarah di Myanmar sejak kudeta militer 1 Februari terhadap pemerintahan sah yang dipimpin Aung San Suu Kyi. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet mengatakan, setidaknya 38 pengunjuk rasa ditembak atau tertembak mati di seluruh negeri pada hari itu.

Yang mengharukan, sebelum meninggal, Kyal Sin sempat menuliskan golongan darahnya secara rinci di akun Facebook. Kyal seperti mempersiapkan diri menjadi martir demi keyakinan 'tak mau hidup di bawah rezim militer'.

Ia telah siap mati, agaknya. "Sumbangkan seluruh organ tubuhku kepada yang membutuhkan jika aku mati," ia menulis, seperti dikutip FrontierMyanmar, laman 'underground', Minggu (7/3).

Gadis Penjaga Toko Kelontong Itu Jadi Simbol Menolak Kudeta Militer

Pada hari ia hendak turun ke jalan, Kyal Sin memilih kaus hitam bertuliskan 'Everything will be OK', semuanya akan baik-baik saja, untuk ia kenakan. Bercelana jins, rambut ia kucir.

Kyal Sin memimpin teman-teman remajanya, menyemangatinya. Ketika tentara menembakkan gas air mata yang membuat pedih, ia tendang pipa air di ujung jalan agar teman-temannya bisa membasuh wajah. Ia seorang atlet taekwondo di kampusnya.

Dalam video yang beredar, Kyal berteriak kesana-kemari menyemangati kawan-kawannya. "Apakah kita masih bersatu?" Massa pun menyahut, 'Bersatu, Bersatu!" Saat itulah penembak runduk atau sniper melepaskan peluru tepat di kepalanya.

Lagi, 'revolusi' Myanmar memakan anak-anaknya sendiri. Sebelumnya, Mya Thwe Thwe Khaing, 20 tahun, tertembus peluru di batok kepalanya. Kematian penjaga toko kelontong itu menggerakkan aksi yang makin besar dari Generasi-Z negeri yang dulu bernama Burma itu. Dan kini 'sang bidadari' Ma Kyal Sin.

Kyal dan Mya membangkitkan ingatan sejarah tentang anak-anak muda yang harapannya dihancurkan oleh peristiwa brutal. Pada 2009 di Teheran, gadis Neda Agha-Soltan juga tewas dalam protes menentang hasil pemilu Iran.

Militer Mainkan Politik Pecah Belah Etnis Myanmar

Lalu 1993, sepasang kekasih Admira Ismic dan Bosko Brkic ditembak militer saat berlari menyeberangi jembatan di Sarajevo, di tempat mana cinta antara muslim dan Serbia bertemu.

Kemudian 1970, publik Amerika Serikat marah mendapati foto Mary Ann Vecchio berteriak sambil berlutut di samping mayat pacarnya Jeffrey Miller. Saat itu tentara Pengawal Nasional Ohio dengan dingin menembak empat mahasiswa demonstran anti-perang, termasuk Miller.

Anak-anak muda dalam catatan kecil itu, serta Kyal Sin dan Gen-Z Myanmar, mungkin bukan martir terakhir. Mereka yang percaya kemerdekaan tidak bisa dibungkam. Mereka yang percaya keyakinan harus diperjuangkan, bahkan dengan nyawa sekalipun.

"Jika saya terluka dan tidak dapat kembali, tolong jangan selamatkan saya. Berikan bagian tubuh saya yang berguna kepada seseorang yang membutuhkan," Kyal menulis di laman Facebook-nya. "Kita membutuhkan keadilan dan demokrasi," ia menambahkan, dengan keyakinan teguh. (ian)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo09 Maret 2021 | 06:32:05

    Cewek pemberani dan pejuang demokrasi. ✊💪

Back to Top