#Myanmar

Gadis Penjaga Toko Kelontong Itu Jadi Simbol Menolak Kudeta Militer

publicanews - berita politik & hukumDemonstran dengan gaun pengantin melakukan aksi damai menolak kudeta militer Myanmar. (Foto: Hkun Lat)
PUBLICANEWS, Naypiydaw - Mya Thwe Thwe Khaing seharusnya merayakan ulang tahun ke-20, Kamis (11/2). Namun dua hari lalu sebuah peluru yang ditembakkan oleh polisi Myanmar menembus helm yang ia kenakan, lalu bersarang di tengkorak kepalanya. Mya tersungkur bersimbah darah di tengah-tengah aksi damai menentang kudeta militer.

Dokter sebuah rumah sakit di ibukota Naypiydaw mengatakan wanita penjaga toko kelontong itu sekarat. Ia hanya bisa hidup dengan bantuan mesin.

"Luka tembak yang fatal. Proyektil bersarang di kepalanya dan ia telah kehilangan fungsi otak secara signifikan," ujar sang dokter, seperti dikutip dari laporan Human Right Watch, Kamis (11/2).

Gadis berambut panjang itu menolak peringatan kakaknya untuk tidak ikut aksi menuntut pembebasan pemimpin Aung San Suu Kyi. Sebelum kejadian, sang kakak, Ye Htut Aung, menelepon untuk memintanya pulang. Tapi Mya bersikeras.

"Apa yang bisa kamu lakukan jika tentara dan polisi menembak demonstran?" tanya Ye Htut Aung via ponsel, seperti dikutip Reuters.

"Tidak akan, mereka tidak akan melakukannya," jawab Mya, yang saat itu mengenakan kaus merah bergambar panda. "Bahkan jika mereka melepaskan tembakan, aku akan baik-baik saja," ia menegaskan.

Myanmar Dihantui Kudeta Militer, Aung San Suu Kyi Ditangkap

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang polisi bersenjatakan senapan mesin Uzi BA-94 tiruan, buatan Myanmar, mengarahkan tembakan ke arah massa yang berlindung di halte bus Jalan Taungnyo, dekat Bundaran Thabyegone, Naypyidaw. Senjatanya menyalak, lalu Mya roboh. Helmnya penuh darah.

Mya segera menjadi simbol perlawanan rakyat Myanmar melawan kudeta militer, kasusnya menjadi perhatian komunitas internasional. "Mereka bisa menembak seorang wanita muda, tapi mereka tidak bisa mencuri harapan dan tekad rakyat Myanmar," Penyidik HAM PBB Thomas Andrews mencuit lewat akun @RapporteurUn.

Kemarin, massa yang turun ke jalan di Naypyidaw, Yangoon, dan Mandalay --tiga kota besar Myanmar-- makin membesar. Mereka membawa poster bergambar Mya saat roboh tertembak. Yang menarik, puluhan polisi turut bergabung bersama demonstran di Negara Bagian Kayah Timur.

Militer melakukan kudeta pada 1 Februari lalu, mereka menangkapi Kanselir Aung San Suu Kyi, Presiden U Win Myint, dan para pemimpin sipil. Pemimpin junta militer Jenderal Min Aung Hlaing berdalih para pemimpin sipil itu memenangkan kembali Pemilu November 2020 dengan curang.

Mya urung merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Keluarga masih terus menunggu di samping tempat tidurnya berharap keajaiban. Mereka tidak tahu kejahatan apa yang telah dilakukan Mya sehingga harus ditembak.

"Kejahatannya? Karena ia menolak kudeta, membela #Myanmar," ujar Penyidik HAM PBB Tom Andrews. (ian)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah15 Februari 2021 | 04:50:33

    Militer demen amat sama kekuasaan. Punya bedil sih.

  2. de'fara @shahiaFM12 Februari 2021 | 19:26:15

    Prihatin atas kejadian ini, banyak hikmah yg didapat. Antara lain agar tdk terjadi lg aparat yg bersenjata asal tembak terhadap demonstran...

Back to Top