Rusia

Didesak Mundur, Vladimir Putin Belajar dari Khadafy

publicanews - berita politik & hukumPuluhan ribu orang melakukan aksi meminta Presiden Vladimir Putin mundur, di Moskow. (Foto: AFP)
PUBLICANEWS, Moskow - Orang paling kuat di Rusia dalam dua dekade terakhir, Presiden Vladfimir Putin (68), pun agaknya punya rasa jerih. Di tengah amuk massa di Ibukota Moskow dan kota-kota lainnya memprotes penahanan tokoh oposisi Alexei Navalny, Putin dikabarkan beberapa kali 'menonton secara obsesif' video Kolonel Moammar Khadafi. Pemimpin Libya itu dibunuh secara brutal setelah terpojok oleh massa yang mengamuk pada 2011 silam.

Yuri Felshtinsky menceritakan kepada The Sun soal Putin nonton video akhir kekuasaan Khadafy. Kebetulan baik Putin maupun Khadafy sama-sama oleh oposisi digambarkan sebagai tiran, keduanya juga berpangkat terakhir Kolonel. Bedanya, Khadafy terkesan lemah pada akhir kekuasaannya.

"Putin takut jika dia melonggarkan cengkeramannya, maka akhir pahit serupa menunggunya," kata penulis dan sejarawan Rusia-Amerika itu, seperti dikutip The Sun, Kamis (4/2). "Dia sangat tahu itu."

Rusia sejak akhir pekan lalu dilanda amuk massa --media Barat menggambarkannya sebagai 'revolusi baru'-- menyusul dipenjarakannya Navalny oleh Kremlin. Massa menyeru agar Putin mundur jika tidak ingin bernasib seperti Khadafy. Ratusan orang telah ditangkapi.

Menurut Felshtinsky, hanya dengan meningkatkan kebrutalan maka Putin bisa tetap berkuasa. "Dia cukup cerdas untuk mengetahui bahwa di bawah aturan normal, sistem pemerintahannya tidak mungkin ada. Dia bukan seorang idealis," ujarnya. "Dia tahu tidak mungkin bisa bertahan kecuali terus menindas," tokoh oposisi itu menambahkan.

Navalny (44) ditahan setelah tiba kembali dari Jerman akhir Januari. Secara ajaib ia sembuh dari serangan racun saraf Novichock yang mematikan, yang dicurigai dilakukan oleh Kremlin.

Putin, Orang Paling Berpengaruh Dunia 2007 versi Time dan berturut-turut pada 2013 hingga 2015 oleh Majalah Forbes, juga diduga memerintahkan meracuni mantan perwira KGB Sergei Skripal dan putrinya di Salisbury pada 2018.

Navalny adalah penyidik antikorupsi yang galak, ia dikejar-kejar Kremlin setelah merilis video istana rahasia milik Putin di tebing Laut Hitam. Istana itu dibangun dengan biaya 1 miliar Pound, hampir Rp 20 triliun!

Video tersebut telah ditonton 100 juta kali. Di istana itulah, kabarnya, Putin kerap menggelar pesta bersama kroninya dengan hiburan tarian telanjang. Navalny menuduh Putin sebagai orang terkaya di dunia dengan dana gelap.

Menurut Fleshtinsky, Navalny adalah satu-satunya tokoh oposisi Rusia saat ini yang mampu mengorganisasikan protes besar-besaran. "Dan mereka (Kremlin) harus membunuhnya," kata Felshtinsky.

Mirip dengan pemimpin tertinggi militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing saat menahan Aung San Suu Kyi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova meminta diplomat Barat dan media asing tak usah mencampuri urusan 'Negeri Beruang Merah'. "Urus saja persoalan internal kalian. Sikap kami terhadap Navalny tak akan berubah," Zakharova menegaskan.

Felshtinsky membenarkan Putin masih sangat kuat, tidak ada yang bisa menggoyahkannya saat ini. Apalagi Putin baru saja menandatangani perubahan undang-undang yang memungkinkannya berkuasa hingga 2036.

"Tapi mengapa ia menonton video akhir tragis Khadafy?" katanya. "Seorang tiran seperti Putin juga jerih, agaknya." (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top