Trump Belum Keluar Gedung Putih, AS Mencekam Jelang Pelantikan Biden

publicanews - berita politik & hukumPengamanan Gedung Capitol di Washington, AS, Minggu (17/1). (Foto: Reuters)
PUBLICANEWS, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak akan menghadiri pelantikan Presiden terpilih AS Joe Bidan, lusa. Bahkan, ia mengubah keputusan keluar dari Gedung Putih Selasa besok menjadi Rabu (20/1) saat inagurasi presiden ke-46 AS.

Dikutip dari Reuters, Senin (18/1), Trump akan bertolak ke Pangkalan Udara Militer Gabungan Andrews di luar Washingtin DC pada hari pelantikan Biden. Ia akan mengadakan perpisahan singkat sebelum terbang menuju resort pribadinya Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida. Namun, agenda ini bisa mendadak berubah.

Sementara itu, FBI memperingatkan kemungkinan kekerasan di banyak negara bagian pada hari pelantikan presiden baru AS. Kelompok ultranasionalis PourdBoys yang selama ini pro-Trump menegaskan tidak akan mundur seperti saat mereka menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari lalu.

Kelompok lainnya, seperti Cowboys for Trump, bersumpah bakal kembali ke ibukota Washington dengan senjata api. Demikian pula dengan kelompok konspirasi aliran QAnon. Kelompok yang menilai Trump sebagai penyelamat atas konsipirasi jahat penyembah setan dan kaum pedofili tersebut ikut melakukan serbuan berdarah saat Kongres mengesahkan Joe Bidan sebagai presiden terpilih.

Direktur FBI Christopher Wray menyebut kelompok-kelompok tersebut sebagai ancaman domestik terbesar bangsa. Saat ini telah AS telah mengerahkan 25 ribu tentara Garda Nasional untuk mengamankan Washington. Bahkan Gedung Capitol, lokasi pelantikan Joe Biden-Kamala Harris, telah diisolasi total.

Menjelang hari H pelantikan, situasi memanas di AS. Gedung DPR di negara bagian sudah mulai menjadi tempat berkumpul kelompok-kelompok loyalis Trump yang menyerukan penolakan Biden. Bahkan ada yang mengancam parade bersenjata pada Rabu mendatang.

Toko-toko senjata kehabisan stok karena diborong. Situasi mencekam. Trump terkesan membiarkan apa yang terjadi, seperti halnya ia tetap mengklaim terjadi pencurian suara dalam Pilpres oleh Demokrat. Ia tetap tidak mengakui Biden sebagai pemenang. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Muhardi Karijanto @hardidja19 Januari 2021 | 04:32:50

    Dalam sejarah Amerika, sudah 4 presiden yg tewas ditembak saat menjabat. Secret Service sbg Paspampres Amerika bersama FBI tidak mampu menjaga jiwa seorang presiden dari ancaman serangan para Ultranasionalis Amerika.

    Dari 4 Presiden yg mati terbunuh, Abraham Lincoln menjadi yg pertama. Ironisnya dia ditembak mati justru tepat di hari SECRET SERVICE dibentuknya.

    Kemenangan Abraham Lincoln mirip dengan Joe Biden saat ini, yaitu saat bangsa Amerika mengalami perpecahan, cuma bedanya AL berasal dari kubu Republiken.

    Pasca Pilpres, bangsa Amerika semakin terbelah, terjadi perang saudara. Dia berusaha merangkul semua kubu untuk menghentikan perang saudara yg berkepanjangan. Namun di saat perang saudara sudah menunjukkan akan berakhir, justru dia ditembak mati ketika sedang menonton teater oleh seorang aktor panggung terkenal, John Wilkes Booth.

    Akankah Joe Biden akan bernasib sama dengan AL, hanya Tuhan dan waktu yang akan mampu menunjukkannya

Back to Top