Pilpres AS

Trump Tolak Akui Kemenangan Joe Biden

publicanews - berita politik & hukumJoe Biden bersama calon wakilnya Kamala Harris di atas panggung setelah media mengumumkan kemenangan pemilihan Presiden AS, di Wilmington, Delaware, AS, 7 November 2020. (Foto: Reuters)
PUBLICANEWS, Washington - Wajah Trump tampak muram. Mengenakan topi bertuliskan 'Make America Great' dan jaket abu-abu, ia kembali memasuki Gedung Putih. Trump baru saja pulang dari bermain golf di Padang Golf Virginia miliknya, sepanjang Sabtu pagi waktu setempat.

Iring-iringan mobil Trump dalam pengawalan ketat agen Secret Service, sempat melintas dekat Black Lives Matter Plaza, tempat massa rivalnya akan merayakan kemenangan sebagai presiden terpilih. Kandidat Presiden dari Partai Demokrat Joe Biden medapatkan dukungan perolehan suara elektoral 290 mengkandaskan petahana dengan 214.

Inilah kekalahan telak bagi Trump. Pamor sebagai presiden tertua Paman Sam juga terpecahkan. Biden yang akan dilantik pada Januari mendatang akan berusia 77 tahun. Trump yang kini berusia 74 tahun tampaknya tidak menyerah. Dari Klub golf, ia menyerukan perlawanan.

Dilansir dari AFP, Minggu (8/11), Trump mengatakan Pilpres masih jauh dari kata akhir. Dalam rilis yang disebarkan kubu Trump disebutkan penantang telah melakukan pemalsuan ketika mengklaim terpilih sebagai presiden ke-46 AS.

"Kita tahu fakta sederhananya adalah Pilpres AS ini belum berakhir," ujar Trump. Ia pun menuding bahwa kemenangan hanya sebagai proyeksi media massa. Trump menegaskan akan menggugat mulai Senin mendatang.

Trump menyebutkan bahwa dalam surat suara yang dikirimkan lewat pos, misalnya, data pemilih banyak dibuat-buat misalnya dengan identitas orang yang sudah meninggal.

"Saya tidak akan beristirahat hingga rakyat Amerika mendapat perhitungan yang jujur," ujarnya.

Bahkan, sebelum meluncur untuk bermain golf, ia masih sempat mencuit di akun Twitternya. "Saya menang Pemilu ini, dengan banyak suara'.

Para ahli mengatakan klaim Trump tersebut tanpa dasar juga ketiadaan bukti. Namun, masyarakat sedikit cemas karena Trump masih presiden hingga awal tahun depan, semua kemungkinan bisa terjadi. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top